Nov
27
2011

Kemana kah Engkau Pemuda?

Pemuda, adalah masa yang sangat berharga. Ia berada di tengah dua kondisi lemah; yaitu masa kecil dan masa tua. Sebuah kesempatan emas bagi seorang insan untuk mengukir prestasi dan meraup limpahan pahala. Masa muda tentu tidak layak untuk disia-siakan. Melewatkan masa muda dengan kesia-siaan adalah sebuah kerugian.

Panutan kita Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya maka akan dipahamkan dalam urusan agama.” (HR. Bukhari dan Muslim). Nah, mari kita lihat kondisi banyak kaum muda. Apakah mereka tergolong orang-orang yang memahami ajaran agamanya, ataukah justru sebaliknya?

Satu tanda saja, mungkin cukup sebagai gambaran. Bagaimana keadaan para pemuda dan kedekatan mereka dengan Kitab sucinya? Padahal, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari). Berapa banyakkah pemuda yang menggabungkan kedua sifat ini; tekun mempelajari al-Qur’an dan juga mengajarkan ilmunya kepada sesama?

Belum lagi soal pengamalannya. Kalau kita cermati, banyak sekali para pemuda yang telah menjauhi al-Qur’an dan tidak lagi memegang teguh ajarannya. Padahal, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Sesungguhnya Allah akan mengangkat derajat sebagian orang dengan Kitab ini, dan akan merendahkan sebagian yang lain karenanya pula.” (HR. Muslim)

Ya, masa muda memang begitu melenakan. Karena di masa muda kesempatan dan kekuatan berpadu pada diri seorang insan. Sehingga dengan leluasa berbagai aktifitas akan bisa dilakukannya. Namun pada kenyataannya, lebih banyak orang yang terpedaya dan tidak pandai mensyukurinya. Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada dua buah nikmat yang kebanyakan orang terpedaya karenanya; kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari).

Dimanakah para pemuda? Ketika masjid-masjid kosong dan sepi dari jama’ahnya? Tidakkah mereka ingin termasuk golongan orang yang mendapatkan naungan Allah pada hari kiamat tiba? Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan, “Ada tujuh golongan yang akan mendapat naungan pada hari tiada naungan kecuali naungan-Nya…” Di antaranya kata beliau, “Seorang pemuda yang tumbuh dalam ketaatan beribadah kepada Tuhannya.” Dan “Seorang lelaki yang hatinya bergantung di masjid.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dimanakah para pemuda? Tatkala waktu sholat tiba sementara tak ada alunan adzan di masjid kampung mereka? Padahal, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memotivasi kita dengan sabdanya,“Para mu’adzin adalah orang-orang yang paling panjang lehernya pada hari kiamat.” (HR. Muslim)

Dimanakah para pemuda? Tatkala majelis-majelis ilmu dibuka dan para pengajar sudi mengajarkan ilmunya tanpa mengharapkan imbalan sedikit pun dari perkara dunia? Padahal, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang menempuh jalan dalam rangka menimba ilmu (agama) niscaya Allah mudahkan untuknya jalan menuju surga.” (HR. Muslim)

Dimanakah para pemuda? Ketika kesempatan untuk beramal dan bekerja sama dalam kebaikan dibuka lebar-lebar untuk mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun telah mengingatkan,“Bersegeralah beramal sebelum datang fitnah-fitnah laksana potongan malam yang gelap gulita. Pada pagi hari seorang masih beriman namun di sore harinya menjadi kafir, atau di sore hari beriman namun pagi harinya menjadi kafir. Dia menjual agamanya demi merasakan kesenangan dunia.” (HR. Muslim)

Dimanakah para pemuda? Ketika musuh-musuh Islam bahu-membahu membobol benteng pertahanan kaum muslimin dengan budaya yang merusak dan pemikiran yang menyimpang. Apakah mereka teguh membela Sunnah dan tetap beribadah kepada Tuhannya, ataukah mereka justru larut dengan dosa dan lebih mendahulukan hawa nafsunya? Sementara qudwah/teladan kita shallallahu ‘alaihi wa sallamtelah menegaskan, “Teguh beribadah di saat berkecamuknya fitnah/kekacauan -memiliki keutamaan yang sangat besar- seperti berhijrah kepadaku.” (HR. Muslim)

Dimanakah para pemuda? Ketika kebenaran semakin terasing dan dipinggirkan dari peradaban manusia. Apakah mereka termasuk orang yang membela dan memperjuangkannya? Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Islam datang dalam keadaan asing dan akan kembali menjadi asing seperti permulaannya. Maka beruntunglah orang-orang yang asing itu.” (HR. Muslim)

Dimanakah para pemuda? Ketika perbuatan-perbuatan keji dipromosikan dan dijajakan oleh musuh-musuh Islam melalui berbagai sarana. Apakah mereka telah binasa menjadi mangsa olehnya? Suatu ketika seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam“Apakah kami akan dibinasakan sedangkan di tengah-tengah kami banyak orang salih?”. Beliau menjawab, “Iya, apabila kekejian telah merajalela.” (HR. Muslim)

Dimanakah para pemuda? Ketika kelalaian telah menjadi trend dan gaya hidup yang mendominasi generasi muda, apakah mereka termasuk orang yang tetap mengingat dan berzikir kepada-Nya. Padahal, Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Perumpamaan orang yang mengingat Tuhannya dengan orang yang tidak mengingat Tuhannya, seperti perumpamaan orang yang hidup dengan orang yang sudah mati.” (HR. Bukhari)

Dimanakah para pemuda? Ketika heningnya suasana menghanyutkan waktu kesendirian seorang hamba, apakah dia juga tetap lekat dengan zikir dan taubat kepada-Nya? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan bahwa di antara tujuh golongan yang mendapatkan naungan Allah di hari kiamat adalah, “Seorang lelaki yang mengingat Allah dalam kesendirian lalu berlinanglah air matanya.”(HR. Bukhari dan Muslim)

Dimanakah para pemuda? Ketika orang-orang berlomba-lomba untuk menampakkan amalannya karena  mengejar pujian dan sanjungan manusia. Apakah dia termasuk orang yang ikhlas beramal karena mengharap wajah-Nya? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan juga bahwa di antara tujuh golongan yang mendapatkan naungan di hari kiamat adalah, “Seorang lelaki yang bersedekah dengan sesuatu dan berupaya menyembunyikannya. Sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dimanakah para pemuda? Ketika dakwah tauhid dilecehkan dan dijauhi oleh manusia gara-gara provokasi kaum nan durjana dan propaganda para penyeru ke pintu-pintu neraka. Padahal Allah ta’alaberfirman (yang artinya), “Dan siapakah yang lebih baik ucapannya daripada orang yang menyeru kepada Allah serta beramal salih, dan dia juga berkata, ‘Sesungguhnya aku ini termasuk orang-orang yang pasrah/muslim.” (QS. Fushshilat: 33)

Dimanakah para pemuda? Ketika pertikaian dan perpecahan telah mendarah daging di tengah-tengah manusia, apakah mereka termasuk orang yang memenuhi seruan Allah (yang artinya), “Berpegang teguhlah kalian semua dengan tali Allah, dan jangan kalian berpecah-belah.” (QS. Ali Imran: 103)

Para pemuda, yang konsisten dengan ajaran agamanya itulah yang kita dambakan. Bukan pemuda yang tidak peduli dan mengabaikan perintah dan larangan Tuhannya. Bukan pula pemuda yang terjebak oleh pandangan ekstrim dalam beragama, yang melampaui batas dan menjadi biang kekacauan di mana-mana. Pemuda muslim yang menjadi simbol ketakwaan dan keadilan. Itulah sosok pemuda idaman.

Sebab dengan ketakwaan itulah seorang pemuda menjadi berharga dan mulia. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian adalah yang paling bertakwa.”(QS. al-Hujurat: 13). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak memperhatikan rupa dan harta kalian. Akan tetapi Allah memandang kepada hati dan amalan kalian.”(HR. Muslim)

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan janganlah kebencianmu kepada suatu kaum membuatmu tidak berlaku adil kepada mereka. Berbuat adillah, karena keadilan itu lebih mendekati kepada takwa.”(QS. al-Maa’idah: 8). Dan keadilan tertinggi yang harus dibela dan ditegakkan oleh seorang pemuda di dalam diri dan masyarakatnya adalah tauhid. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya syirik itu adalah kezaliman yang sangat besar.” (QS. Luqman: 13)

Tatkala seorang pemuda telah menyadari betapa besar peranannya di dalam masyarakat ini, maka sudah selayaknya dia terlebih dulu memperbaiki dirinya sendiri sebelum berusaha memperbaiki orang lain. Bukankah Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. ar-Ra’d: 11). Allah ta’ala juga berfirman (yang artinya), “Mengapa kamu menyuruh orang lain mengerjakan kebajikan, sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri?” (QS. al-Baqarah: 44)

Untuk itu sangat diperlukan ketulusan niat dan kebulatan tekad. Karena niat yang tidak ikhlas akan membuat jerih payah dan tenaga yang terkuras menjadi sia-sia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Sesungguhnya amal-amal itu dinilai dengan niatnya. Dan setiap orang akan dibalas sesuai dengan apa yang dia niatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim). Allah ta’ala juga telah berfirman (yang artinya), “Barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Tuhannya, hendaklah dia melakukan amal salih dan tidak mempersekutukan dalam beribadah kepada Tuhannya dengan sesuatu apapun.”(QS. al-Kahfi: 110)

Seorang pemuda harus menyadari bahwa kehidupan di alam dunia yang hanya sementara ini memiliki tujuan yang jelas. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. adz-Dzariyat: 56). Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar ketakwaan kepada-Nya, dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan sebagai muslim.” (QS. Ali Imran: 102)

Seorang pemuda harus berjuang menjadi insan yang istiqomah. Tegar di atas kebenaran dan tidak hanyut dengan penyimpangan yang melanda kebanyakan orang. Allah ta’ala berfirman (yang artinya),“Jika kamu mengikuti kebanyakan orang di muka bumi ini niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” (QS. al-An’aam: 116).

Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang ikhlas dalam ucapan dan perbuatan, hamba yang benar-benar mengabdi kepada-Nya dan menjadi orang yang bermanfaat bagi sesama, dengan ilmu dan dakwah kepada mereka. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.

oleh: Ustadz Abu Mushlih Ari Wahyudi

Written by nashiruddin.hasan in: Belajar Islam,Mensucikan Hati |

No Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment

Powered by WordPress. Theme: TheBuckmaker