Feb
07
2012
0

5 Logo Restaurant Inspiratif untuk Pemilik Rumah Makan

Di tulisan sebelumnya, saya sudah mengangkat lima logo inspiratif untuk pemilik toko herbal. Nah sekarang, saya akan mencoba melakukan hal yang sama, tetapi untuk para juragan rumah makan. Semoga bermanfaat dan membuat warung makan Anda jadi lebih hidup. Insyaallah. Amin.

Intro

Harus kita akui, bagus tidaknya logo tampaknya memang tidak terlalu berpengaruh dengan ramai tidaknya sebuah rumah makan. Ambil contoh saja di Limboto, ibukota Kabupaten Gorontalo, tempat yang saya tinggali saat ini. Di kecamatan dengan penduduk kurang dari 100 ribu jiwa ini, sudah ada beberapa warung makan yang sudah lama berdiri dan terkenal karena kelezatan masakannya. Bumbu dan aroma masakannya mantap, harganya juga pas di kantong, tempatnya juga nyaman. Tapi bagaimana dengan logonya?

Ah sudah lupakan saja. Tidak perlu dibahas karena logo atau nama warung di sini pada umumnya hanya dibuat menggunakan bantuan fitur Word Art yang ada pada aplikasi pengolah kata MS Word. Dengan kata lain, saya rasa memang tidak ada keterkaitan yang terlalu kuat antara logo dengan ramai tidaknya sebuah rumah makan. Toh, asalkan rasa dan harganya pas, para pengunjung mungkin akan lupa dengan bentuk logo rumah makan kita. Iya tidak? Tapi kalaulah Anda peduli dan sdang ingin mencari inspirasi terkait logo restauran, mungkin inilah salah satu bentuk sumbangsih saya. Semoga berkenan. Insyaallah.

1. Fisih

fisih

Sebuah logo yang dieksekusi dengan brilian. Ketika kita melihat logo ini, kita langsung tahu menu apa yang menjadi andalan rumah makan yang bersangkutan; ikan segar! Tapi sayang, warna biru yang digunakan adalah biru yang pucat. Untuk menghasilkan efek “segar” yang mendalam, akan lebih baik bila warna biru tersebut diganti dengan biru yang lebih muda seperti birunya air laut. Hmmm, jadi langsung ingin makan ikan nih. Untuk Anda yang kebetulan punya restoran sea food di pinggir pantai atau tepi danau, logo ini sepertinya patut dipertimbangkan.

2. Crepers

crepers

Saya sempat beberapa kali memakan makanan yang konon berasal dari negeri Belanda ini di Yogyakarta. Rasanya manis dengan kulit yang terbuat dari tepung nan lembut. Setahu saya, lidah dan perut kita mungkin tidak akan bisa puas kalau kita hanya membeli satu. Logo ini, yang menampilkan olesan cokelat tampaknya berhasil menunjukkan fungsinya sebagai penyampai pesan kepada calon pelanggan. Ketika melihatnya, kepala para pelanggan mungkin langsung terisi penuh dengan aliran pasta cokelat, sementara lidahnya sudah berair dengan nuansa manis. Cantik sekali.

3. Food Lover

food lover

Kalau diartikan ke dalam Bahasa Indonesia, food lover berarti pecinta makanan. Untuk mengekspresikan nama restauran, logo ini mungkin sudah berhasil. Tapi sebagai “cap” atau “identitas”, rasanya logo ini perlu perbaikan. Maklum, ketika sekilas melihat logo ini, para calon pelanggan mungkin tidak akan langsung tergoda untuk masuk dan mencicipi menu-menu andalan Anda.

Lalu bagaimana bila Anda tetap ingin menggunakan konsep desain seperti yang sudah ditunjukkan logo Food Lover ini? Gampang saja. Usahakan mengganti kata food dengan bahan utama dari menu andalan restoran Anda. Bila menu andalan restoran Anda adalah ikan, jadikan saja “Fish Lover” dengan logo ikan yang mengandung ikon “love” yang sederhana namun mendunia itu. Lakukan hal yang sama bila Anda hendak mengganti fish dengan ayam alias chicken. Heheheh .. selamat memodifikasi.

4. The Crazy Tomato

The Crazy Tomato

Dari tampilannya, kita sepertinya bisa memahami tipe makanan apa yang akan kita jumpai dari restoran yang menggunakan desain logo seperti ini. Yups, segala sesuatu yang bersahabat dekat dengan saus tomat. Mungkin pasta. Mungkin mie. Mungkin bakpia. Mungkin bakwan. Mungkin tahu isi. Mungkin bakso. Atau bisa saja makanan baru yang mengandung garam lebih banyak ketimbang gula. Apapun itu, logo ini saya anggap berhasil mengemban tugas untuk menyampaikan ide gila dari pemilik restoran ini, yakni menjadi restoran untuk para pecandu saus tomat! Hehehe … kecanduan tomat adalah salah satu kecanduan yang patut dilestarikan. Semoga saja saya tidak salah kali ini.

5. Eat to Cure

Eat to Cure

Salah satu yang sedang ngetren di kota besar di berbagai belahan dunia saat ini adalah menu-menu makanan sehat. Yang termasuk di dalamnya biasanya adalah makanan dengan bahan-bahan organik (tanpa pestisida/insektisida) atau makanan-makanan untuk para vegetarian. Nah, bila Anda adalah pemilik restoran dengan dua tipikal menu di atas, mungkin Anda tertarik untuk menggunakan konsep logo Eat to Cure ini.

Bila dilihat sekilas, logo ini menampilkan bentuk jantung yang tersusun dari sendok dan garpu. Dengan warna hijau sebagai latar belakang, pesan yang ingin disampaikan logo ini jelas sekali; “Mari melahap makanan yang sehat, alami, dan aman untuk jantung Anda.”

6. Big Oak Catering

big oak catering

Anda pengusaha katering? Kalau iya, cobalah menengok logo yang satu ini. Pembuat logo ini menggunakan buah dari pohon ek yang ditusuk garpu di antara tulisan “big” dan “oak”. Entah kesan apa yang Anda dapatkan ketika melihatnya, tapi saya pribadi mendapatkan kesan sebuah katering yang dipimpin oleh seorang ibu-ibu yang tegas dan tidak mau berkompromi untuk kualitas makanan yang akan ia sajikan.

Tapi bagaimana dengan warna latar belakangnya? Nah ini dia yang membuat saya ingin berkomentar. Bila Anda punya katering, saya rasa warna hijaunya sayuran, birunya laut, atau merahnya cabai mungkin lebih cocok untuk mewakili identitas usaha Anda. Tapi ini adalah pendapat pribadi saya saja, silahkan mengambil warna lain bila Anda memiliki pandangan yang berbeda. Go ahead! Your company is your company! Not mine.

7. Comfort Food

Comfort Food

Bila restoran Anda menjual berbagai makanan yang segar sekaligus hangat dan berlokasi di sebuah areal perkotaan yang ramai seperti mall atau pusat perbelanjaan yang modern plus ditujukan untuk semua kalangan, logo satu ini sepertinya bisa menjadi contoh. Warna latar belakang jingga bisa mewakili kesan masakan yang baru saja diangkat dari tempat pembuatannya. Kalau ayam panggang berarti ayamnya baru dilepas dari pemanggangnya. Bila dibakar, berarti ayamnya baru saja dilepas dari tungkunya. Dan bila itu adalah kentang, berarti kentangnya baru saja ditiriskan dari penggorengannya. Saya harap Anda setuju dengan saya.

Oke, saya belum selesai. Saya meminta Anda untuk memperhatikan keempat huruf “O” yang da di dalam kata “comfort food”. Di “O” pertama, saya seperti melihat piring yang beroleskan saus tomat atau sambal. Di “O” kedua, ada olesan menteganya. “O” yang ketiga beroleskan mayonase atau sejenisnya. Dan “O” keempat berwarna kuning, mungkin saja itu margarine. Mungkin saja. Tapi apapun itu, ada kesan “delicious” yang terlontar.

8. Lobster

Lobster

Ini dia salah satu makanan yang pernah saya makan tapi paling jarang untuk mengulanginya; kepiting alias lobster! Momen pertama kali saya memakan hewan amfibi ini adalah ketika saya berusia di bawah 10 tahunan, yakni ketika saya masih duduk di sekolah dasar. Setelah itu saya lupa kapan pernah memakannya lagi. Memakannya pun tidak segampang memasukkan udang tepung atau cumi saus tiram yang biasanya hanya cukup dengan tangan. Khusus lobster, kita mungkin perlu lidi yang kuat dan tajam untuk mengambil daging yang ada di dalam kulitnya yang keras. Dan saya pun mengakuinya, daging lobster yang tersembunyi itu memang enak. Lha kok malah jadi ngobrol tentang makanan …. sory, mari kembali ke laptop.

Sebenarnya, kalau Anda perhatikan dengan seksama, rupa-rupa hewan yang menonjol di bagian utama logo adalah udang, bukannya lobster. Kesan lobster hanya ada di capitnya. Tapi secara penuh, kita pasti tahu kalau ini adalah penampakan udang. Lagipula, sepertinya belum ada lobster yang terlihat dengan tubuh memanjang. Berbeda dengan beberapa logo yang sudah dibahas sebelumnya, logo ini tampil dengan kesan ramai. Jadi selain menampilkan image udang dengan capitnya yang besar, logo ini juga menunjukkan rupa-rupa makanan lain yang mungkin dijual oleh restauran yang bersangkutan. Saya masih kurang yakin apakah ide ini bisa berhasil ataukah tidak, tapi dengan dominasi warna merah – yang sangat berdekatan dengan rasa pedasnya sambal – plus slogan “seafood & more” saya rasa logo ini memiliki sesuatu yang berharga dan bisa Anda pelajari sekarang juga.

9. Bee’s Kitchen

Bee's Kitchen

Apakah Anda ingin membuka restauran dengan konsep menu berbasis madu semisal Ayam bakar madu, ikan bakar olesan madu, daging sapi kuah madu, lobster saus madu, cumi-cumi pasta madu, dan sejenisnya? Kalau iya, saya berharap Anda mempertimbangkan logo yang satu ini. Sederhana sekaligus fungsional. Sang desainer merepresentasikan lebah dengan senjata utamanya yang khas. Dengan aksesori topi ala chef, pesan dari logo ini tampaknya akan bisa terbaca dengan mudah dan jelas oleh para pelanggannya.

Salah satu yang perlu diapresiasi dari logo ini adalah penggunaan warna latarnya. Pemilihan warna jingga merupakan sebuah keputusan yang sangat tepat karena hewan lebah cenderung dekat dengan warna ini. Subhanallah, saya kagum dengan ide dan hasil eksesusi sang desainer. Benar-benar cantik dan cerdik.

10. Fishlicious

Fishlicious

Dari semua logo yang sudah ditampilkan, inilah logo favorit saya, fishlicious. Mulai dari nama restauran, desain logo, warna yang digunakan, sampai ke tipografi, semuanya tampil dengan sangat kompak dan saling mendukung. Nama “fishlicious” merupakan gabungan dari kata “fish” dan “delicious” (sedap atau lezat alias maknyus). Tipografi untuk menuliskan brand “fishlicious” pun dibuat sedemikian rupa sehingga bisa menyerupai tulang belulang ikan yang biasa kita lihat di dapur rumah kita. Warna biru yang dipakai juga bisa merepresentasikan betapa segarnya ikan yang akan dihidangkan kepada para pelanggan. Plus yang terakhir, adanya kepulan asap di atas gambar penutup ikan bisa memberikan kesan bahwa ikan-ikan yang disajikan adalah ikan yang bagus, bersih, dan masih hangat. Masyaallah, saya benar-benar tidak bisa bohong. Jujur saya jadi ingin langsung masuk ke restauran “fishlicious” ini dan memesan satu porsi ikan batu atau goropa yang dibakar dengan olesan margarine atau madu.

“Maknyus,” kata Pak Bondan. Atau “Sungguh super,” kata Pak Mario. Kalau menurut Anda?

Bagaimana tanggapan Anda dengan kelima logo di atas? Suka, tidak suka atau ……. Entah apa jawab Anda, saya berharap semoga ada salah satunya yang bisa membuat Anda tersenyum bahagia. Amin. Insyaallah.

Artikel www.PengusahaMuslim.com

=========================

Written by nashiruddin.hasan in: Entrepreneur |
Feb
07
2012
0

Cara Sederhana Berwirausaha

by Muhammad Nashiruddin Hasan on Tuesday, February 7, 2012 at 1:22pm

Menurut Anda bagaimana cara yang paling tepat berwirausaha ? Berikut adalah 3 langkah sederhana untuk berwirausaha:

Langkah 1: Bersiaplah. Bersiaplah untuk menjadi bos bagi diri sendiri. Tidak ada lagi yang mengatur jadwal Anda. Hadapilah dengan sukacita. Kalau pun Anda memulai bisnis karena salah satunya adalah karena lingkungan kerja Anda yang sebelumnya kurang mendukung (misal: bos yang tidak koperatif, rekan kerja yang seenaknya sendiri, kemacetan yang menghabiskan waktu berjam-jam usia Anda dll). Lupakan semua itu karena Anda akan memasuki dunia baru yang menyenangkan.Kalau selama ini Anda berangkat kerja sebelum matahari terbit dan pulang setelah matahari terbenam,.. hadapilah kenyataan yang menyenangkan bahwa sebentar lagi semuanya akan berubah. Jam 10 pagi Anda bisa duduk-duduk di Mall, meeting sambil makan siang, bisa menjemput anak sekolah, dll.

Kalau Anda memulai berwirausaha dengan keadaan lingkungan kerja sebelumnya yang menyenangkan, misal: bos yang mendukung, teman-teman yang mendukung, keluarga mendukung.. Wow.. apalagi yang Anda butuhkan selain itu semua? Anda sudah mempunyai harta karun. Jagalah baik-baik karena Anda akan lebih membutuhkannya sebentar lagi. Bersiaplah karena Anda akan menghadapi kenyataan yang menyenangkan! Jadi kapan Anda memulai?

Kalau Anda tanya persiapan apa yang perlu dipersiapkan untuk berwirausaha saya sependapat dengan Bob Sadino,Pertanyaan yang baik adalah pertanyaan yang dijalankan. Mengapa? Karena sesungguhnya Anda sudah tahu jawabannya bukan? Anda hanya ingin supaya ada ‘rasa aman’ dengan bertanya seperti itu. Selama ini Anda merasa aman dengan pekerjaan yang Anda jalani. Menerima gaji pada tanggal yang tetap, pekerjaan yang harus dilakukan sudah ada, tinggal dikerjakan, kalau pun ada kurang-kurangnya ya itu wajarlah, selama manusia masih bernafas, ia tidak akan merasa puas. jadi kalau Anda bertanya apa yang perlu dipersiapkan, jawaban dari saya adalah…

Tidak.. tidak..tidak.. saudara.. tidak ada hal baku yang perlu dipersiapkan. Tidak ada prosedur bakunya. tidak ada SOP-nya. Anda nanti yang harus membuat sendiri aturannya. Satu hal yang penting, kata DR bakmi H. Wahyu Saidi, MSc., gunakan 1/3 saja anggaran yang ada untuk memulai usaha jika Anda baru pertama kali memulainya. Sisanya gunakan untuk berjaga-jaga. Anda boleh percaya, boleh juga tidak lho..Asal tekad sudah bulat, hati sudah mantab, tancap maaang….

Langkah 2: Memulai. Mulailah berwirausaha sekarang juga. Kalau belum bisa 100% mulailah sedikit demi sedikit dahulu. Jangan karena sangat bersemangat kemudian Anda lupa menghitung resiko yang Anda ambil. Apalagi bila Anda habis menghadiri seminar. Wah..wah..wah.. Saran saya, jangan memulai bisnis ketika emosi Anda tidak stabil. Lebih jauh lagi, hindari mengambil keputusan saat emosi tidak stabil.

O iya, ini bukan dunia sinetron di mana ketika Anda mencapai kesuksesan atau akan memulai hal besar seperti ini akan ada musik pengiring yang mengiringi langkah-langkah yang Anda ambil. Bukan seperti iklan TV yang menceritakan entrepreneur sukses lho.. Tidak ada saudara.. this is real life bro..sis.. Enaknya adalah, kalau suatu saat di tengah perjalanan Anda menemui kesulitan – dan pasti akan Anda temui – tidak akan ada musik sedih yang mengiringi. Jadi maksudnya apa? Ya… semuanya netral-netral saja. Tergantung Anda sendiri mau memainkan musik yang mana di hati Anda. Be realistic.. and Be Brave.. kata Alexander the Great.. Tuhan bersama orang-orang yang berani.

Tanya Om, “kalau saya tidak punya Persiapan bagaimana? tapi saya pingin berwirausaha ?”Hmmm… good question… kata yang sering dipakai mantan bos saya dulu.Gini Bos… gitu aja kok repot.. Berarti ente cocoknya sama langkah yang berikutnya.

Langkah 3: Melangkah saja. Kadang-kadang kita perlu belajar dari anak-anak kecil. Inget gak dulu waktu kecil. Jatuh, nangis, terus… bangkit lagi. Berantem, nangis,… baikan lagi. Gak dibeliin mainan, nangis,.. diem lagi.Wooow it was a beatiful life, isn’t it? Jadilah anak kecil, jadilah seperti Anda yang dahulu. Anda yang begitu perkasa saat menjadi anak-anak. Anda yang tidak takut apa pun (kecuali paling sama gelap, hantu, tikus,.. hmm banyak juga ya hahaha..).

Melangkah sajalah bung, karena kalau diam, apa yang didapat? Apa yang di harap? seumur-umur perjalanan hidup manusia yang sudah berlangsung ribuan tahun, seingat saya Tuhan belum pernah lho menurunkan hujan emas kayak di film Indiana Jones. Perubahan tidak ada akan pernah terjadi. Tetapi kalau Anda melangkah, walaupun masa depan itu tidak pasti, berita gembiranya adalah segala sesuatunya mungkin terjadi lho! (ini kata Om Mario Teguh) Termasuk sukses besoaaar yang menanti. [Amin/quickstart]

Sumber: quickstart

Artikel www.PengusahaMuslim.com

=========================

Ingin jadi pengusaha muslim yang sukses dunia akhirat? Bergabunglah di milis Komunitas Pengusaha Muslim Indonesia. Anda dapat memperkenalkan diri, bertukar pengalaman, berkonsultasi, bertukar informasi dan bekerjasama dengan Anggota milis lainnnya.

Written by nashiruddin.hasan in: Entrepreneur |

Powered by WordPress. Theme: TheBuckmaker