Dec
13
2011
1

Fenomena Bertekad Tobat Ketika Hendak Bermaksiat

Disaster - Courtesy of itsnature.orgPeringatan bagi orang yang terpedaya dan sering mengulangi kemaksiatan. Semoga kita terhindar dari fenomena ini. Sekedar sharing sebuah artikel pendek namun bermanfaat. **

Ada fenomena ‘aneh’ pada sebagian orang. Ketika akan berbuat maksiat, sudah ditanamkan untuk tobat setelah perbuatan buruk yang ia lakukan. Dalam hatinya ia berbisik, “Nanti setelah aku melakukan maksiat ini, saya akan bertaubat.”

Memang betul, pintu tobat akan tetap terbuka sebelum matahari terbit dari arah barat. Siapa saja bertobat kepada Allâh dengan tobat sebenarnya (tobat nashuha) dari perbuatan syirik dan perbuatan lain yang lebih rendah darinya, Allâh Subhanahu wa Ta’ala akan menerima tobatnya.

Tobat nashûhâ ialah tobat yang mencakup beberapa aspek yaitu berhenti dari perbuatan dosa, menyesali dosa yang diperbuat dan bertekad kuat untuk tidak mengulangi lagi sebagai realisasi dari rasa takutnya kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala, pengagungannya kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala dan demi mengharap maaf dan ampunan-Nya.

Syarat sahnya tobat bertambah menjadi empat bila kesalahan seseorang berhubungan dengan hak sesama (orang lain). Yaitu dengan menyerahkan hak-hak orang tersebut yang diambil secara zalim, baik berupa harta (yang dicuri) atau meminta dibebaskan (dihalalkan) darinya. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Barangsiapa pernah berbuat zalim kepada saudaranya terhadap kehormatannya atau yang lain, henadaknya meminta orang itu untuk menghalalkan kesalahannya dari perbuatan aniaya tersebut hari ini sebelum datang hari tidak ada uang dinar dan dirham. Apabila ia memiliki kebaikan, maka sejumlah kebaikan akan diambil darinya sebanding dengan perbuatan kezhalimannya (untuk diserahkan kepada orang yang teraniaya). Apabila tidak memiliki kebaikan, maka akan diambilkan dosa saudaranya dan dilimpahkan kepada dirinya.” (H.R. al-Bukhâri, no. 2269) .

Tekad untuk bertobat dari perbuatan dosa merupakan tekad baik yang berhak untuk dihargai. Namun, ketika bisikan “bertobat” ini justru mendorongnya untuk mengawali rencana tobatnya dengan perbuatan maksiat, ini yang perlu diwaspadai. Jika ini yang terjadi, tidak diragukan lagi, ini termasuk tipu daya setan pada diri manusia untuk memudahkan berbuat maksiat dengan dalih di kemudian hari ia akan bertobat usai berbuat maksiat. Tidakkah si pelaku mengkhawatirkan dirinya? Bisa saja Allâh Subhanahu wa Ta’ala menyulitkan jalan bertobat baginya, sehingga akan mengalami penyesalan yang tiada kira dan kesedihan yang tak terukur di saat penyesalan tiada berguna lagi.

Kewajiban seorang muslim adalah menghindari perbuatan syirik dan hal-hal yang menyeret kepadanya, serta menghindari seluruh perbuatan maksiat. Sebab, bisa saja ia dicoba dengan bergelimang dalam maksiat, namun tidak mendapat taufik untuk bertobat. Oleh karena itu, ia harus selalu menjauhi seluruh perkara yang diharamkan oleh Allâh Subhanahu wa Ta’ala dan memohon keselamatan dari-Nya, tidak menuruti bujukan setan, sehingga berani berbuat maksiat dengan menyisipkan niat di hati untuk bertobat sebelumnya.

Simaklah firman-firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala berikut yang berisi perintah untuk selalu takut kepada-Nya, ancaman bagi siapa saja yang nekat berbuat maksiat, dan larangan mengikuti bisikan hawa nafsu dan rayuan setan. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَإِيَّاىَ فَارْهَبُونِ

“dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut (tunduk).” (Q.S. al-Baqarah/2: 40).

Dalam ayat lain, Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَيُحَذِّرُكُمُ اللهُ نَفْسَهُ

“Dan Allâh memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya.” (Q.S. Ali ‘Imrân/3: 28).

Dalam ayat yang lain, Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya,

“Hai manusia, sesungguhnya janji Allâh adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah setan yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allâh. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (Q.S. Fâthir/35: 6).

***

Diadaptasi dari Majmû Fatâwa wa Maqâlât Mutanawwi’ah, Syaikh Bin Bâz, 5/410-411
Artikel www.Salafiyunpad.wordpress.com disalin dari Majalah As-Sunnah Edisi 01 Tahun XIV April 2010.

Written by nashiruddin.hasan in: Aqidah,Kisah,Mensucikan Hati |
Dec
05
2011
0

Jeritan Anak Muda

Siang datang bukan untuk mengejar malam, malam tiba bukan untuk mengejar siang. Siang dan malam datang silih berganti dan takkan pernah kembali lagi. Menanti adalah hal yang paling membosankan, apalagi jika menanti sesuatu yang tidak pasti. Sementara waktu berjalan terus dan usia semakin bertambah, namun satu pertanyaan yang selalu mengganggu “Kapan aku menikah??”.

Resah dan gelisah kian menghantui hari-harinya. Manakala usia telah melewati kepala tiga, sementara jodoh tak kunjung datang. Apalagi jika melihat disekitarnya, semua teman-teman seusianya, bahkan yang lebih mudah darinya telah naik ke pelaminan atau sudah memiliki keturunan. Baginya, ini suatu kenyataan yang menyakitkan sekaligus membingungkan. Menyakitkantatkala masyarakat memberinya gelar sebagai “bujang lapuk” atau“perawan tua”“tidak laku”.Membingungkan tatkala tidak ada yang mau peduli dan ambil pusing dengan masalah yang tengah dihadapinya.

Apalagi anggapan yang berkembang di kalangan wanita, bahwa semakin tua usia akan semakin sulit mendapatkan jodoh. Sehingga menambah keresahan dan mengikis rasa percaya diri. Sebagian wanita yang masih sendiri terkadang memilih mengurung diri dan hari-harinya dihabiskan dengan berandai-andai.

Ini adalah kenyataan yang tidak dapat dipungkiri sebab hal ini bisa saja terjadi pada saudari kita, keponakan, sepupu atau keluarga kita. Salah satu faktor yang menyebabkan hal ini, tingginya batas mahar dan uang nikah yang ditetapkan. Hal ini banyak terjadi dinegeri kita -khususnya di daerah sulawesi-. Telah banyak kisah para pemuda yang sudah ingin sekali menikah, mundur dari lamarannya hanya karena tidak mampu menghadapi mahar yang ditetapkan. Setan pun mendapatkan celah untuk menggelincirkan anak-anak Adam sehingga melakukan perkara-perkara terlarang mulai dari kawin lari sampai pada perbuatan-perbuatan yang hina (zina), bahkan sampai menghamili sebagai solusi dari semua ini. Padahal agama yang mulia ini telah menjelaskan bahwa jangankan zina, mendekati saja diharamkan,

“Dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk.”. (QS. Al-Israa’:32 )

Al-Allamah Muhammad bin Ali Asy-Syaukaniy-rahimahullah- berkata, “Di dalam larangan dari mendekati zina dengan cara melakukan pengantar-pengantarnya terdapat larangan dari zina –secara utama-, karena sarana menuju sesuatu, jika ia haram, maka tujuan tentunya haram menurut konteks hadits”.[Lihat Fathul Qodir (3/319)]

Pembaca yang budiman, sesungguhnya islam adalah agama yang mudah; Allah I telah anugerahkan kepada manusia sebagai rahmat bagi mereka. Hal ini nampak jelas dari syari’at-syari’at dan aturan yang ada di dalamnya, dipenuhi dengan rahmat, kemurahan dan kemudahan. Allah I telah menegaskan di dalam kitab-Nya yang mulia,

“Thaahaa. Kami tidak menurunkan Al Quran Ini kepadamu agar kamu menjadi susah; Tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah)”. (QS.Thohaa :1-3)

Allah I berfirman

Allah tidak menghendaki menyulitkan kalian, tetapi Dia hendak membersihkan kalian dan menyempurnakan nikmat-Nya bagi kalian, supaya kalian bersyukur.“(QS. : Al-Maidah: 6)

Namun sangat disayangkan kalau kemudahan ini, justru ditinggalkan. Malah mencari-cari sesuatu yang sukar dan susah sehingga memberikan dampak negatif dalam menghalangi kebanyakan orang untuk menikah, baik dari kalangan lelaki, maupun para wanita, dengan meninggikan harga uang pernikahan dan maharnya yang tak mampu dijangkau oleh orang yang datang melamar. Akhirnya seorang pria membujang selama bertahun-tahun lamanya, sebelum ia mendapatkan mahar yang dibebankan. Sehingga banyak menimbulkan berbagai macam kerusakan dan kejelekan, seperti menempuh jalan berpacaran. Padahal pacaran itu haram, karena ia adalah sarana menuju zina. Bahkan ada yang menempuh jalan yang lebih berbahaya, yaitu jalan zina !!

Di sisi yang lain, hal tersebut akan menjadikan pihak keluarga wanita menjadi kelompok materealistis dengan melihat sedikit banyaknya mahar atau uang nikah yang diberikan. Apabila maharnya melimpah ruah, maka merekapun menikahkannya dan mereka tidak melihat kepada akibatnya; orangnya jelek atau tidak yang penting mahar banyak !! Jika maharnya sedikit, merekapun menolak pernikahan, walaupun yang datang adalah seorang pria yang diridhoi agamanya dan akhlaknya serta memiliki kemampuan menghidupi istri dan anak-anaknya kelak.

Padahal Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam-telah mamperingatkan,

إِذَا أَتَاكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ خُلُقَهُ وَدِيْنَهُ فَزَوِّجُوْهُ . إِلَّا تَفْعَلُوْا تَكُنْ فِتْنَةٌ فِيْ الْأَرْضِ وَفَسَادٌ عَرِيْضٌ

“Jika datang seorang lelaki yang melamar anak gadismu, yang engkau ridhoi agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia. Jika tidak, maka akan terjadi fitnah (musibah) dan kerusakan yang merata dimuka bumi “[HR.At-Tirmidziy dalam Kitab An-Nikah(1084 & 1085), dan Ibnu Majah dalam Kitab An-Nikah(1967). Di-hasan-kan oleh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (1022)]

Jadi, yang terpenting dalam agama kita adalah ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, bukan sekedar kekayaan dan kemewahan. Sebuah rumah yang berhiaskan ketaqwaan dan kesholehan dari sepasang suami istri adalah modal surgawi, yang akan melahirkan kebahagian, kedamaian, kemuliaan, dan ketentraman. Namun sangat disayangkan sekali, realita yang terjadi di masyarakat kita, jauh dari apa yang dituntunkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Hanya karena perasaan “malu” dan“gengsi” hingga rela mengorbankan ketaatan kepada Allah; tidak merasa cukup dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan dalam syari’at-Nya. Mereka melonjakkan biaya nikah, dan mahar yang tidak dianjurkan di dalam agama yang mudah ini. Akhirnya pernikahan seakan menjadi komoditi yang mahal, sehingga menjadi penghalang bagi para pemuda untuk menyambut seruan Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam-

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ

“Wahai para pemuda! Barang siapa diantara kalian yang telah mampu, maka menikahlah, karena demikian (nikah) itu lebih menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan. Barang siapa yang belum mampu, maka berpuasalah, karena puasa akan menjadi perisai baginya”. [HR. Al-Bukhoriy (4778), dan Muslim (1400), Abu Dawud (2046), An-Nasa’iy (2246)]

Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- telah menganjurkan umatnya untuk mempermudah dan jangan mempersulit dalam menerima lamaran dengan sabdanya,

مِنْ يُمْنِ الْمَرْأَةِ تَسْهِيْلُ أَمْرِهَا وَقِلَّةُ صَدَاقِهَا

“Diantara berkahnya seorang wanita, memudahkan urusan (nikah)nya, dan sedikit maharnya”. [HR. Ahmad dalam Al-Musnad (24651), Al-Hakim dalam Al-Mustadrok (2739), Al-Baihaqiy dalam Al-Kubro (14135), Ibnu Hibban dalam Shohih-nya (4095), Al-Bazzar dalam Al-Musnad (3/158), Ath-Thobroniy dalam Ash-Shoghir (469). Di-hasan-kan Al-Albaniy dalam Shohih Al-Jami’ (2231)]

Oleh karena itu, pernah seseorang datang kepada Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- seraya berkata,“Sesungguhnya aku telah menikahi seorang wanita.” Beliau bersabda, “Engkau menikahinya dengan mahar berapa?” orang ini berkata:”empat awaq (yaitu seratus enam puluh dirham)”. Maka Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:

عَلَى أَرْبَعِ أَوَاقٍ ؟ كَأَنَّمَا تَنْحِتُوْنَ الْفِضَّةَ مِنْ عَرْضِ هَذَا الْجَبَلِ مَا عِنْدَنَا مَا نُعْطِيْكَ وَلَكِنْ عَسَى أَنْ نَبْعَثَكَ فِيْ بَعْثٍ تُصِيْبُ مِنْهُ

“Dengan empat awaq (160 dirham)? Seakan-akan engkau telah menggali perak dari sebagian gunung ini. Tidak ada pada kami sesuatu yang bisa kami berikan kepadamu. Tapi mudah-mudahan kami dapat mengutusmu dalam suatu utusan (penarik zakat) ; engkau bisa mendapatkan (empat awaq tersebut)”. [HR, Muslim(1424)].

Al-Imam Abu Zakariyya Yahya bin Syarof An-Nawawiy-rahimahullah- berkata tentang sabda Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- yang kami huruf tebalkan, “Makna ucapan ini, dibencinya memperbanyak mahar hubungannya dengan kondisi calon suami”.[Lihat Syarh Shohih Muslim(6/214)]

Perkara meninggikan mahar, dan mempersulit pemuda yang mau menikah, ini telah diingkari oleh Umar -radhiyallahu ‘anhu-. Umar –radhiyallahu ‘anhu– berkata,

أَلَا لَا تَغَالُوْا بِصُدُقِ النِّسَاءِ فَإِنَّهَا لَوْ كَانَتْ مَكْرَمَةً فِيْ الدُّنْيَا أَوْ تَقْوًى عِنْدَ اللهِ لَكَانَ أَوْلَاكُمْ بِهَا النََّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا أَصْدَقَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اِمْرَأَةً مِنْ نِسَائِهِ وَلَا أُصْدِقَتْ اِمْرَأَةٌ مِنْ بَنَاتِهِ أَكْثَرَ مِنْ ثِنْتَيْ عَشَرَ أُوْقِيَةٌ

“Ingatlah, jangan kalian berlebih-lebihan dalam memberikan mahar kepada wanita karena sesungguhnya jika hal itu adalah suatu kemuliaan di dunia dan ketaqwaan di akhirat, maka Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- adalah orang yang palimg berhak dari kalian. Tidak pernah Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- memberikan mahar kepada seorang wanitapun dari istri-istri beliau dan tidak pula diberi mahar seorang wanitapun dari putri-putri beliau lebih dari dua belas uqiyah (satu uqiyah sama dengan 40 dirham)” .[HR.Abu Dawud (2106), At-Tirmidzi(1114),Ibnu Majah(1887),

Ahmad(I/40&48/no.285&340). Di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Takhrij Al-Misykah(3204)]

Pembaca yang budiman, pernikahan memang memerlukan materi, namun itu bukanlah segala-galanya, karena agungnya pernikahan tidak bisa dibandingkan dengan materi. Janganlah hanya karena materi, menjadi penghalang bagi saudara kita untuk meraih kebaikan dengan menikah.Yang jelas ia adalah seorang calon suami yang taat beragama, dan mampu menghidupi keluarganyanya kelak. Sebab pernikahan bertujuan menyelamatkan manusia dari perilaku yang keji (zina), dan mengembangkan keturunan yang menegakkan tauhid di atas muka bumi ini.

Oleh karena itu, Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- perkah bersabda,

ثَلَاثَةٌ كُلُّهُمْ حَقٌّ عَلَى اللهِ عَوْنُهُ الْغَازِيْ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ وَالْمُكَاتَبُ الَّذِيْ يُرِيْدُ الْأَدَاءَ وَالنَّاكِحُ الَّذِيْ يُرِيْدُ التَّعَفُّفَ

“Ada tiga orang yang wajib bagi Allah untuk menolongnya: Orang yang berperang di jalan Allah, budak yang ingin membebaskan dirinya, dan orang menikah yang ingin menjaga kesucian diri“.[HR. At-Tirmidziy (1655), An-Nasa’iy (3120 & 1655), Ibnu Majah (2518). Di-hasan-kan oleh Al-Albaniy dalam Takhrij Al-Misykah (3089)]

Orang tua yang bijaksana tidak akan tentram hatinya sebelum ia menikahkan anaknya yang telah cukup usia. Karena itu adalah tanggung-jawab orang tua demi menyelamatkan masa depan anaknya. Oleh karena itu, diperlukan kesadaran orang tua semua untuk saling tolong-menolong dalam hal kebaikan. Ingatlah sabda Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam-

إِنَّ الدِّيْنَ يُسْرٌ وَلَنْ يُشَادَّ الدِّيْنَ أَحَدٌ إِلَّا غَلَبَهُ

“Agama adalah mudah dan tidak seorangpun yang mempersulit dalam agama ini, kecuali ia akan terkalahkan”. [HR. Al-Bukhary (39), dan An-Nasa’iy(5034)]

Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- memerintahkan umatnya untuk menerapkan prinsip islam yang mulia ini dalam kehidupan mereka sebagaimana dalam sabda Beliau,

يَسِّرُوْا وَلَا تُعَسِّرُوْا وَبَشِّرُوْا وَلَا تُنَفِّرُوْا

“permudahlah dan jangan kalian mempersulit, berilah kabar gembira dan jangan kalian membuat orang lari”. [HR.Al-Bukhary(69& 6125), dan Muslim(1734)]

Syaikh Al-Utsaimin-rahimahullah- berkata, “Kalau sekiranya manusia mencukupkan dengan mahar yang kecil, mereka saling tolong menolong dalam hal mahar(yakni tidak mempersulit) dan masing-masing orang melaksanakan masalah ini, niscaya masyarakat akan mendapatkan kebaikan yang banyak, kemudahan yang lapang, serta penjagaan yang besar, baik kaum lelaki maupun wanitanya”.[Lihat Az-Zawaaj]

Sumber : Buletin Jum’at Al-Atsariyyah edisi 54 Tahun I. Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas. Alamat : Jl. Bonto Te’ne No. 58, Kel. Borong Loe, Kec. Bonto Marannu, Gowa-Sulsel. HP : 08124173512 (a/n Ust. Abu Fa’izah). Pimpinan Redaksi/Penanggung Jawab : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Editor/Pengasuh : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Layout : Abu Dzikro. Untuk berlangganan/pemesanan hubungi : Ilham Al-Atsary (085255974201). (infaq Rp. 200,-/exp)

http://almakassari.com

Written by nashiruddin.hasan in: Kisah,Mensucikan Hati,Teknik Kimia |
Dec
05
2011
0

Akibat Ulah Guru Besar

Di bangku kuliah, kita biasa mendengar ada istilah “guru besar” alias professor. Pada hari ini, di dunia almamater muncul “guru besar” yang jauh lebih hebat pengaruhnya dibandingkan pak Prof. Siapakah dia? Jawabnya, itulah barang malang yang disebut dengan “televisi”. Kehebatannya dalam mempengaruhi orang tidak perlu diragukan lagi. Mulai balita, anak kecil, ABG, orang dewasa, dan lansia, baik laki-laki, maupun perempuan dari kalangan orang rakyat jelata sampai professor; semuanya “bertekuk lutut” di hadapan TV. Semua terpukau dan silau dengan gemerlapnya tayangan televisi, seakan-akan tak ada cacat, aib, dan kesalahannya. Tapi, bagi orang yang memiliki sedikit ilmu din (agama) akan tahu tentang bahaya dan kerugian yang ditimbulkan oleh televisi di dunia dan akhirat.

Tayangan Televisi telah melatih para pemuda untuk berbuat kekerasan melalaui berbagai adegan yang ditampilkan kepada mereka dalam bentuk film-film tentang kriminal, karate, pertandingan tinju, dan lain sebagainya. Pengaruh buruknya bisa kita lihat dalam kehidupan anak-anak muda yang senang melakukan tawuran dan aksi kekerasan. Ini disebabkan karena mereka terobsesi dengan tayangan-tayangan di TV yang merusak akhlak mereka. Waktu mereka untuk belajar sangat sempit, digeser oleh berbagai jenis hiburan dan tayangan acara televisi yang menghabiskan waktu dengan materi yang tidak mendidik. Parahnya lagi, kurangnya jam pendidikan agama di sekolah-sekolah umum. Itu pun kalau guru agamanya hadir. Terkadang guru agamanya hadir, tapi para remaja sangat sedikit mendapatkan bimbingan-bimbingan rohani. Padahal bimbingan rohanilah yang dapat menyejukkan hati meraka yang merupakan pengontrol dari perbuatan-perbuatan mereka.

Disamping itu, keluarga sebagai lembaga nonformal yang pertama dan yang paling utama, kini cenderung sepi. Kedua orang tua berkerja dan anak dibiarkan menentukan pendidikan dan panutannya sendiri; atau mungkin ibu ada di rumah, namun ia tidak menerapkan pendidikan akhlak di keluarga, bahkan secara tidak langsung anak disuruh menyesuaikan diri dengan dunia modern yang penuh kebebasan. Mereka disediakan kamar sendiri dengan seperangkat video game, televisi dan computer yang memungkinkan anak menemukan celah-celah buruk dari media tersebut berupa sex, horor, kekerasan dan penghamburan waktu, tanpa kontrol dari orang tua. Oleh karena itu, pada akhir-akhir ini kita sering mendengar berita-berita kriminal, seperti pembunuhan, pencurian, pemerkosaan dan lainnya. Kesemuanya ini adalah perkara-perkara yang dilarang oleh Allah -Azza wa Jalla-. Mereka mempelajari kejahatan-kejahatan ini melalui film dan tayangan televisi .

Allah –’Azza wa Jalla- berfirman:

وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا

“Dan barang siapa yang membunuh seorang mu’min dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahannam, kekal di dalamnya dan Allah murka kepadanya dan mengutuknya, serta menyediakan siksaan yang besar baginya” . (QS. An-Nisa`: 93)

Seorang mufassir, Syaikh Abdur Rahman bin Nashir As-Sa’diy -rahimahullah- berkata dalam menafisrkan ayat ini, “Tidak ada ancaman yang lebih besar dalam semua jenis dosa besar, bahkan tidak pula semisalnya dibandingkan ancaman ini, yaitu pengabaran bahwa balasan orang yang membunuh adalah Jahannam. Maksudnya, cukuplah dosa yang besar ini saja untuk dibalasi pelakunya dengan Jahannam, beserta siksaan yang besar di dalamnya, kerugian yang hina, murkanya Al-Jabbar (Allah), luputnya keberuntungan, dan terjadinya kegagalan, dan kerugian. Kami berlindung kepada Allah dari segala sebab yang menjauhkan dari rahmat-Nya”. [Lihat Taisir Al-Karim Ar-Rahman (hal. 193-194)]

Televisi juga mempropagandakan gaya hidup mewah dan bebas di tengah dunia nyata. Akibatnya, semakin banyak orang yang hidup tanpa arah yang jelas; mencuri, merampok, korupsi dan lain-lain.

Guru Besar telah melatih para penjahat tentang seni terbaru dalam mencuri, menjarah, membuka kunci dan menghapus jejak kejahatan. Jika kita memperhatikan masa lalu, maka kita akan mendapati bahwasanya kejahatan dahulu itu sangat sederhana, sehingga dalam waktu singkat, para petugas mampu menangkap penjahat tersebut. Namun, kini para penjahat telah mempelajari dan mengetahui berbagai cara dan modus kejahatan terbaru. Mereka berguru dari film-film action dan selainnya, yang diajarkan oleh Guru Besar. Oleh karena itu, betapa seringnya kita mendengar terjadinya penjarahan rumah-rumah, pencurian mobil, pengedaran obat terlarang, penculikan gadis-gadis, perkosaan, pembunuhan dan lain sebagainya. Semua berhasil dengan sempurna berkat strategi yang jitu sehingga mampu melemahkan petugas. Dari mana mereka belajar semua itu? di universitas manakah mereka belajar? siapa yang mengajarkan semua itu kepada mereka? Tentunya dari Guru Besar alias TV.

Televisi dan Keretakan Rumah Tangga

Televisi adalah faktor utama tersebarnya problem perceraian dan kegagalan ramah tangga. Televisi telah mengajarkan para wanita untuk berbuat durhaka kepada suaminya. Waktunya lebih banyak dihabiskan di depan TV untuk menunggu sinetron-sinetron favoritnya, kabar-kabar para selebriti, film-film India dan telenovela kesayangannya. Sehingga banyak tugas dan kewajibannya yang dilalaikan sebagai seorang istri, seperti melayani dan memperhatikan suami serta anak-anaknya .

Dia juga melihat para suami yang ditayangkan di sinetron TV adalah orang-orang yang memiliki rumah yang besar, perabot-perabot yang lengkap, mobil yang mewah, dan selalu memberikan istrinya perhiasan yang indah-indah. Kemudian, ia membandingkan suaminya dengan apa yang dilihatnya di TV Dia menginginkan suaminya mampu seperti laki-laki ideal yang ada di televisi. Ketika suaminya tidak mampu berbuat seperti itu, dianggapnya suatu kekurangan dari suaminya dan menganggap bahwa suaminya tidak mampu membahagiakan dirinya. Sehingga, Suaminya pun marah, lalu perselisihan berkecamuk, ikatan perkawinan retak, ikatan keluarga terputus. Akibatnya banyak kasus perceraian diakibatkan sikap istri yang kurang perhatian dan pengertian kepada suaminya Penyebabnya, tiada lain adalah TV. Padahal, hak-hak suami yang wajib dipenuhi oleh istri itu banyak sekali dan sangat agung. Karena demikian agungnya hak tersebut , Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda:

مَا يَنْبَغِى لِأََحَدٍ أَنْ يَسْجُدَ لِأَحَدٍ وَلَوْ كَانَ أَحَدٌ يَنْبَغِى أَنْ يَسْجُدَ لِأَحَدٍِ لَأَ مَرْتُ امْرَأَتًا أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا كَمَا عَظَّمَ االلهُ عَلَيْهِ مٍنْ حَقِّهِ

“Tidaklah sepantasnya seorang bersujud kepada yang lain. Andaikata seorang boleh bersujud kepada orang lain niscaya aku akan perintahkan seorang wanita bersujud kepada suaminya karena Allah menganggap besar hak seorang suami atasnya “ . [HR. At-Tirmidzi dalam Al-Kubra(7/291), Ibnu Hibban dalam Shohih-nya (415). Al-Albani men-shohih-kannya dalam Takhrij Al-Misykah Al-Mashobih (3255)]

Al-Allamah Muhammad Abdur Rahman Al-Mubarakfuriy -rahimahullah- berkata ketika menjelaskan kenapa sampai Nabi -Shollallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda demikian tadi, “Karena besarnya hak suami atas diri sang istri, dan ketidakmampuan seorang istri mensyukurinya. Dalam hadits ini, terdapat penekanan yang teramat dalam tentang wajibnya seorang istri taat kepada suami, karena sujud tidak halal, kecuali sujud kepada Allah” [Lihat Tuhfah Al-Ahwadziy (4/358)]

Selain itu, seorang akan memandang lawan jenisnya ketika ia menonton TV. Padahal Allah telah mengharamkan memandang kepada lawan jenis yang bukan mahramnya, karena bahayanya yang begitu besar, dapat mengantarkan kepada sesuatu yang lebih berbahaya yaitu zina.

Allah berfirman:

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ

“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman supaya mereka menundukkan pandangan mereka… Katakanlah kepada kaum wanita yang beriman agar menundukkan pandangan mereka”. (QS. An-Nur: 30-31)

Al-Hafizh Ibnu Katsir Ad-Dimasqiy rahimahullah – berkata dalam Tafsir Ibnu Katsir (3/373), “Ini merupakan perintah dari Allah -Ta’ala- kepada para hamba-Nya yang beriman, agar mereka menundukkan pandangan mereka dari sesuatu yang haram atas mereka. Maka mereka hendaknya tidak memandang, kecuali kepada sesuatu yang dihalalkan oleh Allah bagi mereka untuk dipandang; dan agar menundukkan pandangannya dari wanita-wanita. Jika kebetulan pandangannya tertuju pada sesuatu yang haram (dipandang), tanpa ada kesengajaan, maka hendaknya ia memalingkan pandangannya dari hal itu dengan cepat “.

Beliau -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

يَا عَلِيُّ لاَ تٌتْبِعْ النَّظْرَةَ النَّظْرَةَ فَإِنَّ لَكَ اْلأُوْلىَ وَلَيْسَتْ لَكَ اْلآخِرَةُ

“Wahai Ali, janganlah kamu ikuti pandangan (pertama) itu dengan pandangan (berikutnya). Pandangan (pertama) itu boleh buat kamu, tapi tidak dengan pandangan selanjutnya”. [HR. Abu Dawud dalam As-Sunan (2149), dan At-Tirmidziy dalam As-Sunan (2777). Di-hasan-kan oleh Al-Albaniy dalam Jilbab Al-Mar’ah (77)]

Perintah untuk menundukkan pandangan, tidak mungkin bisa dilaksanakan selama barang haram ‘televisi’ ada dirumah kita. Sebab tayangan-tayangan yang ditampilkan, tidak lepas dari perkara haram: mulai dari pameran aurat (sedang aurat wanita, seluruh tubuhnya), ikhtilat (campur baur laki-laki dan wanita), berkhalwat (berdua-duaan dengan yang bukan mahramnya), wanita-wanita yang bertabarruj (menampakkan kecantikan), nyanyian dan musik.

  • Televisi dan Penghancuran Aqidah

Televisi telah menghancurkan aqidah kaum muslimin dengan berbagai tayangan-tayangan yang merusak dan sarat dengan kesyirikan. Dengan menampilkan kuburan-kuburan para wali di berbagai tempat (daerah), sedang di samping kuburan itu ada orang yang berdoa, shalat, menyembelih, bernadzar, meminta jaminan, meminta bantuan, meminta pertolongan, meminta rezki, mencari keterangan, mencari petunjuk atas orang atau barang yang hilang supaya bisa kembali ,atau melakukan ritual-ritual ibadah dan lain sebagainya.

Padahal Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

لاَ تُصَلُّوْا إِلىَ قَبْرٍ وَلاَ تُصَلُّوْا عَلىَ قَبْرٍ

“Janganlah engkau shalat menghadap ke kubur, dan jangan pula shalat di atasnya”. [HR. Ath-Thabraniy dalam Al-Kabir (3/145/2). Hadits ini dishohihkan oleh Al-Albaniy dalam Tahdzir As-Sajid(hal. 31)]

Televisi juga menampilkan kebohongan para tukang sihir, dukun dan peramal. Para dukun itu menampilkan diri seolah-olah sebagai seorang tabib dan kiyai, sehingga mereka memerintahkan orang yang sakit agar menyembelih kambing atau ayam dengan ciri-ciri tertentu; menuliskan untuk para pasiennya sebuah tulisan (mantra-mantra) syirik dan permohonan perlindungan syaithoniyah dalam bentuk bungkusan yang dikalungkan di leher, diletakkan di laci atau di atas pintu. Sebagian lagi menampakkan diri sebagai wali yang memiliki karamah dan hal-hal diluar kebiasaan manusia, seperti masuk ke dalam api, tetapi tidak terbakar; menebas dirinya dengan pedang, namun tidak terluka; atau dilindas mobil, tetapi tidak apa-apa, dan lainnya di antara keanehan, hakekatnya adalah sihir dan perbuatan syaithan yang diperjalankan melalui tangan mereka untuk membuat kerusakan aqidah di antara manusia.

Pengakuan mereka mengetahui ilmu ghaib dan perkara-perkara ghaib, kesemuanya itu melalui permohonan bantuan syethan-syethan yang mencuri dengar dari langit. Allah -Ta’ala- berfirman:

هَلْ أُنَبِّئُكُمْ عَلَى مَنْ تَنَزَّلُ الشَّيَاطِينُ . تَنَزَّلُ عَلَى كُلِّ أَفَّاكٍ أَثِيمٍ . يُلْقُونَ السَّمْعَ وَأَكْثَرُهُمْ كَاذِبُونَ

“Apakah akan Aku beritakan kepadamu, kepada siapa syethan-syethan itu turun? Mereka turun kepada tiap-tiap pendusta lagi yang banyak dosa, mereka menghadapkan pendengaran (kepada syetan) itu, dan kebanyakan mereka adalah pendusta”. (QS. Asy-Syuara’ : 221-223).

Al-Imam Al-Lalika’iy-rahimahullah- berkata, “Mereka itu (para wali syetan) menjadikan syetan-syetan sebagai walipenolong mereka. Mereka telah menjual agamanya dengan imbalan berupa kemampuan-kemampuan luar biasa dan bentuk pertolongan lain yang diberikan syetan-syetan itu kepada mereka”. [Lihat Syarh Ushul hal. 27)

Syetan mencuri kalimat dari ucapan malaikat kemudian disampaikan ke telinga mereka, dan mereka berbohong dengan kalimat (yang diterimanya itu) sebanyak seratus kali kebohongan di layar kaca lalu para pemirsa mempercayainya, disebabkan oleh satu kalimat (yang benar tersebut) yang didengar oleh syethan dari langit. Apa yang dikatakan tukang sihir, dukun dan peramal, sebenarnya hanyalah dugaan dan kebetulan saja.

Umumnya, tidak lebih dari dusta karena bisikan syethan. Tidak ada yang terbujuk, kecuali orang yang kurang akal dan agamanya saja. Realita ini merupakan fenomena yang aneh! Aneh, tapi nyata. Orang yang berakal sehat akan bertanya-tanya, mengapa di zaman modern ini, zaman globalisasi, zaman teknologi, dan komunikasi semakin canggih hingga sebagian orang memuja-mujanya setinggi langit, namun khurafat, mistik, dan perdukunan masih lengket, bahkan terkesan semakin lengket dengan kehidupan masyarakat.

Dalam acara-acara TV banyak kita temukan perkara-perkara sihir. Biasanya ditampilkan dalam bentuk acara yang berbau kemistikan, sepeti “Pemburu Hantu”“Misteri Gunung Merapi”“Kera Sakti”“Gerhana”,“Mariam si Manis Jembatan Ancol”, “Mahkota Mayangkara”, dan masih banyak lagi tayangan lainnya yang ternyata sebagai “Dalang Penghancur Aqidah”. Padahal di dalam kitab-kitab aqidah, para ulama telah banyak membahas tentang bahaya sihir terhadap aqidah. Mereka menyebutkan bahwasanya sihir dapat membatalkan keislaman seseorang sehingga menjadikan dia tidak beraqidah Islam lagi. Kalau hal ini sampai terjadi maka tidak ada lagi harapan kebahagian bagi dirinya. Karena Allah telah menjelaskan di dalam firman-Nya:

وَلاَ يُفْلِحُ السَّاحِرُ حَيْثُ أَتَى

“Dan tidak akan beruntung tukang sihir dari manapun dia datang”. (QS. Thaha: 69)

Sumber : Buletin Jum’at Al-Atsariyyah edisi 17 Tahun I. Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas.

Written by nashiruddin.hasan in: Kisah |

Powered by WordPress. Theme: TheBuckmaker