Nov
26
2011
0

Alat Ukur Panjang, Massa dan Waktu

Alat ukur besaran-besaran fisika sangat banyak

tetapi di kelas X SMA ini dikenalkan tiga alat ukur besaran
pokok yaitu panjang, massa dan waktu. Beberapa alat
ukur besaran tersebut dapat dicermati seperti berikut.
a. Alat ukur panjang
Panjang, lebar atau tebal benda dapat diukur dengan
mistar. Tetapi jika ukurannya kecil dan butuh ketelitian
maka dapat digunakan alat lain yaitu jangka sorong dan
mikrometer skrup.
(1) Jangka sorong
Sudah tahukah kalian dengan jangka sorong?
Jangka sorong banyak digunakan dalam dunia mesin. Jika
kalian menanyakan pada teknisi sepeda motor atau mobil
maka dia akan langsung menunjukkannya. Perhatikan
Gambar 1.9(a). Alat pada gambar itulah yang dinamakan
jangka sorong. Jika kalian cermati maka jangka sorong
tersebut memiliki dua bagian. Pertama, rahang tetap
yang memuat skala utama. Kedua, rahang sorong (geser)
yang memuat skala nonius.

Alat ukur besaran-besaran fisika sangat banyaktetapi di kelas X SMA ini dikenalkan tiga alat ukur besaranpokok yaitu panjang, massa dan waktu. Beberapa alatukur besaran tersebut dapat dicermati seperti berikut.a. Alat ukur panjangPanjang, lebar atau tebal benda dapat diukur denganmistar. Tetapi jika ukurannya kecil dan butuh ketelitianmaka dapat digunakan alat lain yaitu jangka sorong danmikrometer skrup.(1) Jangka sorongSudah tahukah kalian dengan jangka sorong?Jangka sorong banyak digunakan dalam dunia mesin. Jikakalian menanyakan pada teknisi sepeda motor atau mobilmaka dia akan langsung menunjukkannya. PerhatikanGambar 1.9(a). Alat pada gambar itulah yang dinamakanjangka sorong. Jika kalian cermati maka jangka sorongtersebut memiliki dua bagian. Pertama, rahang tetapyang memuat skala utama. Kedua, rahang sorong (geser)yang memuat skala nonius.

[gambar a dan b]

Skala nonius merupakan skala yang menentukan

ketelitian pengukuran. Skala ini dirancang dengan panjang

19 mm tetapi tetap 20 skala. Sehingga setiap skala

nonius akan mengalami pengecilan sebesar (20-19) : 20

= 0,05 mm. Perhatikan perbandingan skala tersebut pada

Gambar 1.9(b).

Hasil pengukuran dengan jangka sorong akan

memuat angka pasti dari skala utama dan angka taksiran

dari skala nonius yang segaris dengan skala utama. Penjumlahan

dari keduannya merupakan angka penting.

Hasil pengukuran itu dapat dituliskan dengan persamaan

sebagai berikut.

x = (x0 + Δx . 0,05) mm …………………. (1.4)

dengan : x = hasil pengukuran

CONTOH 1.5

Diana mengukur diameter dalam tabung dapat menunjukkan

keadaan pengukuran seperti pada Gambar

1.10. Berapakah diameter dalam tabung tersebut?

Penyelesaian

Dari Gambar 1.10 diperoleh:

x0 = 23 mm

Δx = 12

Berarti diameter dalam tabung sebesar:

x = x0 + Δx . 0,05

= 23 + 12.0,05 = 23,60 mm

[ gambar 1.10]

(2) Mikrometer sekrup

Coba kalian perhatikan Gambar 1.11! Alat yang

terlihat pada gambar itulah yang dinamakan mikrometer

sekrup. Mirip dengan jangka sorong, mikrometer juga

memiliki dua bagian. Pertama, rahang tetap memuat

skala utama. Kedua, rahang putar, memuat skala

nonius.

Mikrometer ini dapat digunakan untuk mengukur

ketebalan benda-benda yang tipis seperti kertas dan

rambut. Hal ini sesuai dengan sifat mikrometer yang

memiliki ketelitian lebih besar dari jangka sorong. Mikrometer

memiliki ketelitian hingga 0,01 mm. Ketelitian

ini dirancang dari rahang putar yang memuat 50 skala

x0 Δx

rahang tetap rahang tetap

[ gambar 1.11]

Hasil pengukurannya juga memiliki angka pasti

dan angka taksiran seperti jangka sorong. Rumusnya

sebagai berikut.

x = (x0 + Δx . 0,01) mm ……………….. (1.5)

dengan : x = hasil pengukuran

x0

= skala utama sebelum batas rahang putar

Δx = skala nonius yang segaris dengan garis

tengah skala utama

CONTOH 1.6

Penunjukkan skala pada mikrometer sekrup yang

digunakan untuk mengukur tebal kertas dapat dilihat

seperti pada Gambar 1.12. Berapakah hasil pengukuran

tersebut?

Penyelesaian

Dari Gambar 1.11 dapat diperoleh:

x0 = 1 mm

Δx = 6

Berarti hasil pengukurannya sebesar:

x = x0 + Δx . 0,01

= 1 + 6 . 0,01 = 1,06 mm

[ gambar 1.12]

b. Alat ukur massa

Kalian tentu sudah tidak asing lagi dengan pengukur

massa. Setiap saat kalian perlu menimbang massa

kalian untuk data tertentu. Alat pengukur itu dikenal

dengan nama neraca. Namun beberapa neraca yang

digunakan sering dinamakan timbangan. Pada Gambar

1.13 diperlihatkan berbagai jenis neraca ; neraca badan,

neraca pegas, neraca O’hauss dan neraca analitis. Neraca

badan memiliki skala terkecil 1 kg, neraca pegas 1 gr,

neraca O’hauss 0,1 gr sedangkan neraca analitis hingga

1 mg.

Neraca yang sering digunakan di laboratorium

adalah neraca O’hauss. Hasil pengukuran dengan neraca

sesuai dengan jumlah pembanding yang digunakan.

Untuk memahaminya cermati contoh 1.7 berikut.

[ gambar a dan b]

CONTOH 1.7

Andi dan Johan sedang mengukur massa balok.

Pembanding-pembanding yang digunakan dapat

terlihat seperti pada Gambar 1.14(a). Berapakah

massa balok tersebut?

[ gambar 1.14]

Penyelesaian

Hasil pengukuran dengan neraca O’hauss adalah jumlah

dari pembanding-pembanding yang digunakan,

sehingga dari Gambar 1.14(a) dapat diperoleh:

M = 1kg + 400 kg + 40 gr + 1gr

= 1441 gr = 1,441 kg

c. Alat ukur waktu

Dalam setiap aktivitas, kita selalu menggunakan

batasan waktu. Contohnya proses belajar mengajar

fisika, waktunya 90 menit. Istirahat sekolah 30 menit.

Batasan-batasan waktu ini biasanya digunakan jam biasa.

Bagaimana jika batasan waktunya singkat (dalam detik)

seperti mengukur periode ayunan? Untuk kejadian ini

dapat digunakan pengukur waktu yang dapat dikendalikan

yaitu stop watch. Perhatikan Gambar 1.15!

Ada beberapa jenis stopwatch, ada yang manual dan ada

yang digital.

Hasil pembacaan stop watch digital dapat langsung

terbaca nilainya. Untuk stop watch yang menggunakan

jarum, maka pembacanya sesuai dengan penunjukkan

jarum. untuk contoh 1.8 diperlihatkan stop watch yang

memiliki dua jarum penunjuk. Jarum pendek untuk menit

dan jarum panjang untuk detik.

CONTOH 1.8

Tampilan stopwatch yang digunakan untuk mengukur

waktu gerak benda dapat dilihat seperti Gambar 1.16.

Berapakah waktu yang dibutuhkan?

Penyelesaian

Jarum pendek: 2 menit

Jarum panjang: 34,5 detik (jarum pendek pada tanda

hitam/merah berarti di atas 30 detik)

Jadi waktu yang dibutuhkan memenuhi:

t = 2 menit + 34,5 detik

= 120 detik + 34,5 detik = 154,5 detik

[ gambar 1.17]

4. Analisa Angka Penting

Seperti penjelasan di depan, angka penting merupakan

semua angka yang diperoleh dalam pengukuran.

Namun setelah dituliskan kadang-kadang jumlah angka

pentingnya jadi rancu. Contohnya panjang suatu benda

terukur 3,2 cm. Nilai panjang ini dapat ditulis 0,032 m atau

320 mm. Dari penulisan ini timbul pertanyaan; berapakah

jumlah angka penting panjang benda tersebut?

Untuk mengatasi kerancuan tersebut maka kalian

perlu memperhatikan hal-hal penting berikut.

1. Penulisan angka penting bertujuan untuk mengetahui

ketelitian suatu pengukuran.

Contohnya pengukuran panjang benda di atas. l =

3,2 cm. Hasil ini menunjukkan bahwa pengukuran

ini teliti hingga 1 desimal untuk centimeter (0,1 cm)

dan angka pentingnya berjumlah 2. Misalnya lagi

suatu pengukuran yang memperoleh t = 2,50 s. Hasil

ini menunjukkan bahwa ketelitian alatnya sampai dua

desimal (0,01 s) sehingga perlu menuliskan nilai 0 di

belakang angka 5. Berarti memiliki 3 angka penting.

2. Penulisan hasil pengukuran sebaiknya menggunakan

notasi ilmiah.

Bentuk notasi ilmiah seperti berikut.

a × 10n ……………………………………… (1.6)

dengan : 1 < a < 10

n = bilangan bulat

Penulisan notasi ilmiah ini akan lebih bermanfaat lagi

jika dilakukan perubahan satuan. Misalnya pengukuran

panjang benda di atas l = 3,2 cm = 0,032

m. Perubahan satuan ini sebaiknya dalam bentuk l

= 3,2.10-2 m. Penulisan ini tetap memiliki dua angka

penting. Begitu pula dalam mm, l = 3,2.101 mm (2

angka penting). Dengan metode ini perubahan satuan

tidak mengubah jumlah angka penting hasil pengukuran.

4. Analisa Angka Penting

Seperti penjelasan di depan, angka penting merupakan

semua angka yang diperoleh dalam pengukuran.

Namun setelah dituliskan kadang-kadang jumlah angka

pentingnya jadi rancu. Contohnya panjang suatu benda

terukur 3,2 cm. Nilai panjang ini dapat ditulis 0,032 m atau

320 mm. Dari penulisan ini timbul pertanyaan; berapakah

jumlah angka penting panjang benda tersebut?

Untuk mengatasi kerancuan tersebut maka kalian

perlu memperhatikan hal-hal penting berikut.

1. Penulisan angka penting bertujuan untuk mengetahui

ketelitian suatu pengukuran.

Contohnya pengukuran panjang benda di atas. l =

3,2 cm. Hasil ini menunjukkan bahwa pengukuran

ini teliti hingga 1 desimal untuk centimeter (0,1 cm)

dan angka pentingnya berjumlah 2. Misalnya lagi

suatu pengukuran yang memperoleh t = 2,50 s. Hasil

ini menunjukkan bahwa ketelitian alatnya sampai dua

desimal (0,01 s) sehingga perlu menuliskan nilai 0 di

belakang angka 5. Berarti memiliki 3 angka penting.

2. Penulisan hasil pengukuran sebaiknya menggunakan

notasi ilmiah.

Bentuk notasi ilmiah seperti berikut.

a × 10n ……………………………………… (1.6)

dengan : 1 < a < 10

n = bilangan bulat

Penulisan notasi ilmiah ini akan lebih bermanfaat lagi

jika dilakukan perubahan satuan. Misalnya pengukuran

panjang benda di atas l = 3,2 cm = 0,032

m. Perubahan satuan ini sebaiknya dalam bentuk l

= 3,2.10-2 m. Penulisan ini tetap memiliki dua angka

penting. Begitu pula dalam mm, l = 3,2.101 mm (2

angka penting). Dengan metode ini perubahan satuan

tidak mengubah jumlah angka penting hasil pengukuran.

3. Semua angka bukan nol merupakan angka penting.

Contohnya suatu pengukuran tebal benda memperoleh

nilai d = 35,28 cm berarti nilai tersebut

memiliki 4 angka penting.

4. Untuk angka nol memiliki kriteria tersendiri yaitu:

a). Angka nol diantara bukan nol termasuk angka

penting

b). Angka nol di sebelah kanan angka bukan nol

termasuk angka penting kecuali ada keterangan

tertentu.

c). Angka nol di sebelah kiri angka bukan nol tidak

termasuk angka penting.

Contohnya:

3,023 gr = 4 angka penting

4,500 s = 3 angka penting

0,025 cm = 2 angka penting

Mengapa kalian perlu mengetahui jumlah angka

penting? Jumlah angka penting ini ternyata berkaitan erat

dengan operasi angka penting. Operasi angka penting

yang perlu dipelajari diantaranya penjumlahan, pengurangan,

perkalian dan pembagian. Dalam setiap operasi

ini perlu mengetahui beberapa aturan berikut.

(1) Operasi dua angka pasti hasilnya angka pasti.

(2) Operasi yang melibatkan angka taksiran hasilnya

merupakan angka taksiran.

(3) Hasil operasi angka penting hanya diperbolehkan

mengandung satu angka taksiran. Jika diperoleh

lebih dari dua angka taksiran maka harus dilakukan

pembulatan. Angka 4 ke bawah dihilangkan

dan angka 5 ke atas dibulatkan ke atas.

a. Penjumlahan dan pengurangan

Operasi penjumlahan dan pengurangan angka

penting memiliki cara yang sama dengan operasi aljabar

biasa. Hasilnya saja yang harus memenuhi aturan angka

penting diantaranya hanya memiliki satu angka taksiran.

Perhatikan contoh berikut.

CONTOH 1.9

a. X = 25, 102 + 1,5

b. Y = 6,278 − 1,21

Tentukan nilai X dan Y!

Penyelesaian

a. Penjumlahan :

25, 1 0 2

1, 5 +

26, 6 0 2

16 Fisika SMA Kelas X

Aktiflah

Sifat pembagian angka penting

sama dengan perkaliannya.

Perhatikan pembagian bilangan

berikut.

x = 43,56 : 5,2

a. Berapakah jumlah angka

penting bilangan hasil pembagian

tersebut? Jelaskan

bagaimana kalian dapat

menentukannya?

b. Buktikan jawaban kalian

dengan membagi bilangan

tersebut!

_

Dengan pembulatan diperoleh X = 26,6 (hanya 1

angka taksiran).

b. Pengurangan:

6, 2 7 8

1, 2 1

5, 0 6 8

Dengan pembulatan diperoleh Y = 5,07 (hanya 1

angka taksiran).

b. Perkalian dan pembagian

Bagaimana dengan operasi perkalian dan pembagian

angka penting? Sudahkah kalian memahami?

Ternyata aturannya juga sesuai dengan operasi penjumlahan

dan pengurangan. Namun ada sifat yang menarik

pada operasi ini. Coba kalian cermati jumlah angka penting

pada perkalian berikut.

3 5, 1 (3 angka penting)

2, 6 (2 angka penting)

2 1, 0 6

7 0, 2

9 1, 2 6

Pembulatan : 9 1 (2 angka penting)

Apakah yang dapat kalian cermati dari hasil operasi

perkalian itu? Ternyata hasil akhir operasi perkalian

itu memiliki jumlah angka penting yang sama dengan

jumlah angka penting paling sedikit. Sifat perkalian ini

akan berlaku pada operasi pembagian. Cobalah buktikan

dengan membuat contoh sendiri.

CONTOH 1.10

Sebuah hambatan terukur 120, 5 Ω. Jika ujung-ujung

hambatan itu diberi beda potensial 1,5 volt maka

berapakah kuat arus yang lewat?

Penyelesaian

R = 120,5 Ω (4 angka penting)

V = 1,5 volt (2 angka penting)

Sesuai hukum Ohm (masih ingat di SMP?) dapat

diperoleh:

I =

= = 0,01245 A = 12,45 mA

Pembulatan I = 12 mA (2 angka penting)

Kata Pencarian Artikel ini:

Written by nashiruddin.hasan in: Fisika,Materi Pelajaran SMA |
Nov
26
2011
0

Pengambilan Data dan Angka Penting

Di depan kalian telah dijelaskan tentang apa yang dimaksud dengan pengukuran. Dalam belajar fisika tidak bisa lepas dari pengukuran. Ada tiga hal penting yang berkaitan dengan pengukuran, yaitu: pengambilan data, pengolahan data dan penggunaan alat ukur. Ketiga hal ini dapat kalian cermati pada penjelasan berikut.

1. Pengambilan Data dan Angka Penting
Pernahkah kalian melakukan kegiatan pengambilan data? Proses pengukuran hingga memperoleh data hasil pengukuran itulah yang dinamakan pengambilan data. Apakah hasil pengukuran dapat memperoleh nilai yang tepat? Proses pengukuran banyak terjadi kesalahan. Kesalahan bisa terjadi dari orang yang mengukur, alat ukur atau lingkungannya. Untuk memuat semua keadaan itu maka pada hasil pengukuran dikenal ada angka pasti dan angka taksiran. Gabungan kedua angka itu disebut angka penting.
Angka penting adalah angka yang didapat dari hasil pengukuran yang terdiri dari angka pasti dan angka taksiran. Nilai setiap hasil pengukuran merupakan angka penting. Seperti keterangan di atas angka penting terdiri dari dua bagian. Pertama angka pasti yaitu angka yang ditunjukkan pada skala alat ukur dengan nilai yang ada. Kedua angka taksiran yaitu angka hasil pengukuran yang diperoleh dengan memperkirakan nilainya. Nilai ini muncul karena yang terukur terletak diantara skala terkecil alat ukur. Dalam setiap pengukuran hanya diperbolehkan memberikan satu angka taksiran. Untuk memahami angka penting ini dapat kalian cermati contoh berikut.

Penting
Angka taksiran pada pengukuran massa benda Gambar 1.2 juga boleh sebesar 0,9 atau 0,7 yang penting adalah 1 angka taksiran. Tidak boleh 0,85 atau 0,95 karena ada 2 angka penting.

CONTOH 1.1
Sekelompok siswa yang melakukan pengukuran massa benda menggunakan alat neraca pegas. Dalam pengukuran itu terlihat penunjukkan skala seperti pada Gambar 1.2. Aghnia menuliskan hasil 8,85 gr sedangkan John menuliskan hasil 8,9 gr. Manakah hasil yang benar?
Penyelesaian:
Coba kalian perhatikan Gambar 1.2. Dari gambar itu dapat diperoleh:
Angka pasti = 8 gr
Angka taksiran = 0,9 gr (hanya boleh satu angka taksiran, tidak boleh 0,85 karena 2 angka taksiran)
Hasil pengukuran adalah
m = angka pasti + angka taksiran
= 8 + 0,8 = 8,8 gr
Jadi yang lebih tetap adalah hasilnya John.

Untuk lebih memahami contoh ini dapat kalian coba soal berikut.

Sebuah pensil diukur panjangnya dengan mistar centimeter. Keadaannya dapat dilihat seperti pada Gambar 1.3. Tentukan hasil pengukuran tersebut.

Untuk mendapatkan hasil pengukuran yang tepat dapat dilakukan langkah-langkah penghindaran kesalahan. Langkah-langkah itu diantaranya seperti berikut.
a. Memilih alat yang lebih peka
Langkah pertama untuk melakukan pengukuran adalah memilih alat. Alat ukur suatu besaran bisa bermacam-macam. Contohnya alat ukur massa.  Tentu kalian telah mengenalnya ada timbangan (untuk beras atau sejenisnya), neraca pegas, neraca O’hauss (di laboratorium) dan ada lagi neraca analitis (bisa digunakan menimbang emas). Semua alat ini memiliki kepekaan atau skala terkecil yang berbeda-beda. Untuk mendapatkan hasil yang lebih tepat maka: pertama, pilihlah alat yang lebih peka (lebih teliti). Misalnya neraca analitis memiliki ketelitian yang tinggi hingga 1 mg. Kedua, pilihlah alat yang sesuai penggunaannya (misalnya neraca analisis untuk mengukur benda – benda kecil seperti massa emas).
b. Lakukan kalibrasi sebelum digunakan
Kalibrasi biasa digunakan pada badan meteorologi dan geofisika. Misalnya untuk timbangan yang sudah cukup lama digunakan, perlu dilakukan kalibrasi. Kalibrasi adalah peneraan kembali nilai-nilai pada alat ukur. Proses kalibrasi dapat juga dilakukan dalam lingkup yang kecil yaitu pada pengambilan data eksperimen di laboratorium. Sering sekali alat ukur yang digunakan memiliki keadaan awal yang tidak nol. Misalnya neraca pegas saat belum diberi beban, jarumnya sudah menunjukkan nilai tertentu (bukan nol). Keadaan alat seperti inilah yang perlu kalibrasi. Biasanya pada alat tersebut sudah ada bagian yang dapat membuat nol (normal).
c. Lakukan pengamatan dengan posisi yang tepat
Lingkungan tempat pengukuran dapat mempengaruhi hasil pembacaan. Misalnya banyaknya cahaya yang masuk. Gunakan cahaya yang cukup untuk pengukuran. Setelah lingkungannya mendukung maka untuk membaca skala pengukuran perlu posisi yang tepat. Posisi pembacaan yang tepat adalah pada arah yang lurus.
d. Tentukan angka taksiran yang tepat
Semua hasil pengukuran merupakan angka penting. Seperti penjelasan di depan, bahwa angka penting memuat angka pasti dan satu angka taksiran. Angka taksiran inilah yang harus ditentukan dengan tepat. Lakukan pemilihan angka taksiran dengan pendekatan yang tepat. Angka taksiran ditentukan dari setengah skala terkecil. Dengan demikian angka penting juga dipengaruhi spesifikasi alat yang digunakan.

Aktiflah
Sekelompok siswa sedang
mengukur panjang penghapus.
Beberapa posisi pengukurannya
terlihat seperti
gambar di bawah.

Coba kalian jelaskan pengukur
(a) dan (b)!


Aktiflah
Gambar 1.3
Sekelompok siswa sedang
mengukur panjang penghapus.
Beberapa posisi pengukurannya
terlihat seperti
gambar di bawah.
(a)
(b)
Coba kalian jelaskan pengukur
(a) dan (b)!

Kata Pencarian Artikel ini:

lanjutan:

Pengolahan Data

Ditulis oleh Sri Handayani pada 14-05-2011

2. Pengolahan Data
Pengukuran dalam fisika bertujuan untuk mendapatkan data. Apakah manfaat data yang diperoleh? Tentu kalian sudah mengetahui bahwa dari data tersebut dapat dipelajari sifat-sifat alam dari besaran yang sedang diukur. Dari data itu pula dapat dilakukan prediksi kejadian berikutnya.

Dari penjelasan di atas dapat dilihat betapa pentingnya arti data hasil pengukuran. Namun perlu kalian ketahui bahwa untuk memenuhi pemanfaatannya data yang ada perlu dianalisa atau diolah. Metode pengolahan data sangat tergantung pada tujuan pengukuran (eksperimen) yang dilakukan. Sebagai contoh untuk kelas X SMA ini dapat dikenalkan tiga metode analisa data seperti berikut.
a. Metode generalisasi
Pengukuran atau yang lebih luas bereksperimen fisika di tingkat SMA ada yang bertujuan untuk memahami konsep-konsep yang ada. Misalnya mempelajari sifat-sifat massa jenis air. Untuk mengetahui sifat itu maka dapat dilakukan pengukuran kemudian datanya diolah. Pengolahan data untuk tujuan ini tidak perlu rumit, cukup dari data yang ada dibuat simpulan yang berlaku umum.Salah satu metode untuk membuat simpulan masalah seperti ini adalah metode generalisasi.
Perhatikan contoh berikut.
CONTOH 1.2
Made dan Ahmad sedang melakukan pengukuran massa jenis zat cair dengan gelas ukur dan neraca seperti pada Gambar 1.4. Tujuannya untuk mengetahui sifat massa jenis zat cair jika volumenya diperbesar. Jika volumenya ditambah dan massanya ditimbang maka dapat diperoleh data seperti pada tabel 1.1.  Simpulan apakah yang dapat kalian peroleh?

Penyelesaian

Karena bertujuan untuk mengetahui sifat massa jenis, maka dapat dibuat simpulan dengan menggunakan metode generalisasi. Dari data pada tabel 1.1 dapat dilihat bahwa pada setiap keadaan diperoleh hasil perhitungan ρ =  m/v yang selalu tetap yaitu 1,2 gr/cm3. Jadi ρ tetap terhadap tambahan
volume.

Untuk lebih memahami contoh ini dapat kalian coba soal berikut.

Dalam suatu pengukuran dan pengamatan sifat-sifat bayangan oleh lensa cembung diperoleh data seperti pada tabel 1.2. Coba kalian tentukan sifat-sifat yang ada dari data tersebut!

b. Metode kesebandingan

Tujuan pengukuran (eksperimen) yang utama adalah mencari hubungan antara besaran yang satu dengan besaran yang lain. Dari hubungan antar besaran ini dapat diketahui pengaruh antar besaran dan kemudian dapat digunakan sebagai dasar dalam memprediksi kejadian berikutnya. Misalnya semakin besar massa balok besi maka semakin besar pula volume balok besi tersebut. Untuk memenuhi tujuan pengukuran di atas maka data yang diperoleh dapat dianalisa dengan cara membandingkan atau disebut metode kesebandingan. Dalam metode kesebandingan ini sebaiknya data diolah dengan menggunakan grafik. Untuk tingkat SMA ini dapat dipelajari dua bentuk kesebandingan yaitu berbanding lurus dan berbanding terbalik.
Berbanding lurus
Dua besaran yang berbanding lurus (sebanding) akan mengalami kenaikan atau penurunan dengan perbandingan yang sama. Misalnya X berbanding lurus dengan Y, maka hubungan ini dapat dituliskan seperti berikut.

Hubungan berbanding lurus ini dapat digambarkan pada grafik dengan kurva yang linier seperti pada Gambar 1.5.

Grafik X berbanding lurus dengan Y.

Berbanding terbalik

Dua besaran akan memiliki hubungan berbanding terbalik jika besaran yang satu membesar maka besaran lain akan mengecil tetapi perkaliannya tetap. Misalnya X berbanding terbalik dengan Y, maka hubungan ini dapat ditulis sebagai berbanding terbalik. Dua besaran akan memiliki hubungan berbanding terbalik jika besaran yang satu membesar maka besaran lain akan mengecil tetapi perkaliannya tetap. Misalnya X berbandingterbalik dengan Y, maka hubungan ini dapat ditulis sebagai
[Equation_02.jpg]
Hubungan berbanding terbalik ini dapat digambarkan
pada grafik dengan kurva yang berbentuk hiperbola pada satu
kuadran (untuk X dan Y positif) seperti pada Gambar 1.6(a)
atau linier seperti yang terlihat pada Gambar 1.6.(b)
Hubungan berbanding terbalik ini dapat digambarkanpada grafik dengan kurva yang berbentuk hiperbola pada satukuadran (untuk X dan Y positif) seperti pada Gambar 1.6(a)atau linier seperti yang terlihat pada Gambar 1.6.(b)
[Fig_08.jpg]
CONTOH 1.3
Sekelompok siswa sedang melakukan pengukuran untukmengetahui hubungan beda potensial ujung-ujung hambatandengan kuat arus yang mengalir. Mereka membuat rangkaianseperti pada Gambar 1.7 dan mengukur beda potensial V denganvolt meter dan kuat arus I dengan amperemeter. Data yang
[TAbel_o3]
[Fig_09.jpg]
Penyelesaian
Untuk mengetahui hubungan V dengan I dapat digunakan
grafik V-I. Dari tabel 1.3 dapat digambarkan
grafik seperti Gambar 1.8. Kurva yang terjadi cenderung
linier naik berarti V berbanding lurus dengan I.
Secara matematis dituliskan:
V ~ I
[Fig_10.jpg]
Untuk lebih memahami contoh ini dapat kalian
coba soal berikut.
Dalam suatu ruang tertutup terdapat gas yang diatur
suhunya tetap. Volume tersebut diubah-ubah seiring
dengan perubahan tekanan sehingga suhu tetap. Pada
pengukuran volume dan tekanan gas diperoleh data
seperti pada tabel 1.4. Tentukan hubungan tekanan
dan volume gas tersebut!
[Tabel_04.jpg]

Kata Pencarian Artikel ini:

manfaat mempelajari massa airpengolahan dataartikel pengukuran liniermetode pengolahan datatabel densitastabel massa jenisfungsi balok besi dalam pengukuranPerhitungan kimia menggunakan massa jenisdensitas zat cairdensitas air

Written by nashiruddin.hasan in: Fisika,Materi Pelajaran SMA |
Nov
26
2011
0

Model Atom Rutherford

Antoine Henri Becquerel (1852-1908), seorang ilmuwan dari Perancis pada tahun 1896 menemukan bahwa uranium dan senyawa-senyawanya secara spontan memancarkan partikel-partikel. Partikel yang dipancarkan itu ada yang bermuatan listrik dan memiliki sifat yang sama dengan sinar katode atau elektron.

Unsur-unsur yang memancarkan sinar itu disebut unsur radioaktif, dan sinar yang dipancarkan juga dinamai sinar radioaktif. Ada tiga macam sinar radioaktif, yaitu:
a. sinar alfa (α), yang bermuatan positif
b. sinar beta (β), yang bermuatan negatif
c. sinar gama(γ), yang tidak bermuatan

Sinar alfa dan beta merupakan radiasi partikel. Setiap partikel sinar alfa bermuatan +2 dengan massa 4 sma, sedangkan partikel sinar beta sama dengan elektron, bermuatan –1 dan massa 1/1.840 sma (dianggap sama dengan nol). Adapun sinar gama adalah radiasi elektromagnet, tidak bermassa, dan tidak bermuatan.

Rutherford, penemu model atom Rutherford

Pada tahun 1908, Hans Geiger dan Ernest Marsden yang bekerja di laboratorium Rutherford melakukan eksperimen dengan menembakkan sinar alfa (sinar bermuatan positif) pada pelat emas yang sangat tipis. Sebagian besar sinar alfa itu berjalan lurus tanpa gangguan, tetapi sebagian kecil dibelokkan dengan sudut yang cukup besar, bahkan ada juga yang dipantulkan kembali ke arah sumber sinar. Dari hasil percobaan kedua asistennya itu, Ernest Rutherford menafsirkan sebagai berikut:

  • Sebagian besar partikel sinar alfa dapat menembus pelat karena melalui daerah hampa.
  • Partikel alfa yang mendekati inti atom dibelokkan karena mengalami gaya tolak inti.
  • Partikel alfa yang menuju inti atom dipantulkan karena inti bermuatan positif dan sangat massif (Martin S. Silberberg, 2000)

Percobaan Rutherford Menembakkan Sinar Alpha

Beberapa tahun kemudian, yaitu tahun 1911, Ernest Rutherford mengungkapkan teori atom modern yang dikenal sebagai model atom Rutherford.
a. Atom tersusun dari:

  • Inti atom yang bermuatan positif.
  • Elektron-elektron yang bermuatan negatif dan mengelilingi inti.

b. Semua proton terkumpul dalam inti atom, dan menyebabkan inti atom
bermuatan positif.
c. Sebagian besar volume atom merupakan ruang kosong. Hampir semua
massa atom terpusat pada inti atom yang sangat kecil. Jari-jari atom
sekitar 10–10 m, sedangkan jari-jari inti atom sekitar 10–15 m.
d. Jumlah proton dalam inti sama dengan jumlah elektron yang mengelilingi
inti, sedangkan atom bersifat netral.

Model Atom Rutherford, Rutherford

Kata Pencarian Artikel ini:

struktur atom rutherfordmacam macam radioaktifprofil tokoh ilmuwan kimia ernest marsdenpercobaan rutherford tentang atom dengan sinar alfavolume atomtahun penerapan rutherfordSinar radidoaktif yang tidak bermassa tetapi bermuatan negatif adalahpengertian sinar alfa,profil tokoh ilmuan kimia ernest marsdenrumus kimia rotherford

Written by nashiruddin.hasan in: Kimia,Materi Pelajaran SMA |
Nov
26
2011
0

Model Atom Thompson

Pada tahun 1897 J. J. Thompson menemukan elektron. Berdasarkan penemuannya tersebut, kemudian Thompson mengajukan teori atom baru yang dikenal dengan sebutan model atom Thompson. Model atom Thompson dianalogkan seperti sebuah roti kismis, di mana atom terdiri atas materi bermuatan positif dan di dalamnya tersebar elektron bagaikan kismis dalam roti kismis. Karena muatan positif dan negatif bercampur jadi satu dengan jumlah yang sama, maka secara keseluruhan atom menurut Thompson bersifat netral (Martin S. Silberberg, 2000).

J. J Thompson, penemu model atom ThompsonModel Atom Thompson

Kata Pencarian Artikel ini:

Written by nashiruddin.hasan in: Kimia,Materi Pelajaran SMA |
Nov
26
2011
0

Model Atom Dalton

Tahukah Anda bahwa di dunia ilmu kimia ini patut dikenang satu nama sebagai pencetus teori atom modern yang asli. Dia adalah seorang guru dan ahli kimia berkebangsaan Inggris bernama John Dalton (1776 – 1844). Sumbangan Dalton merupakan keunikan dari teorinya yang meliputi dua hal:

  • Dia adalah orang pertama yang melibatkan kejadian kimiawi seperti halnya kejadian fisis dalam merumuskan gagasannya tentang atom.
  • Dia mendasarkan asumsinya pada data kuantitatif, tidak menggunakan pengamatan kualitatif atau untung-untungan.

John Dalton

Teori atom Dalton dikemukakan berdasarkan dua hukum, yaitu hukum
kekekalan massa dan hukum perbandingan tetap. Teori atom Dalton
dikembangkan selama periode 1803-1808 dan didasarkan atas tiga asumsi
pokok, yaitu:

  • Setiap unsur kimia tersusun oleh partikel-partikel kecil yang tidak dapat dihancurkan dan dipisahkan yang disebut atom. Selama mengalami perubahan kimia, atom tidak bisa diciptakan dan dimusnahkan.
  • Semua atom dari suatu unsur mempunyai massa dan sifat yang sama,
    tetapi atom-atom dari suatu unsur berbeda dengan atom-atom dari unsur yang lain, baik massa maupun sifat-sifatnya yang berlainan.
  • Dalam senyawa kimiawi, atom-atom dari unsur yang berlainan melakukan ikatan dengan perbandingan angka sederhana.

Kata Pencarian Artikel ini:

kelebihan dan kekurangan atom daltondata kuantitatif daltonmencari model-model atom daltonSUMBANGAN JOHN DALTONKelebihan dan Kekurangan Daltoncari model atom daltongagasan atom daltonmodel atom daltompaper teori atom daltonnama model atom dalton

Written by nashiruddin.hasan in: Kimia,Materi Pelajaran SMA |
Nov
26
2011
0

Tabel Periodik Unsur dan Struktur Atom

Pernahkah Anda berpikir bagaimana seandainya sepotong besi dipotong menjadi dua, kemudian setiap bagian dipotong lagi menjadi dua, kemudian setiap bagian yang kecil dipotong menjadi dua lagi, dan seterusnya sampai bentuk yang terkecil. Kira-kira apa yang akan Anda peroleh? Pernahkah juga Anda berpikir hamparan pasir di pantai yang dari kejauhan tampak seperti hamparan permadani, tetapi ketika didekati dan dipegang ternyata hanya butiran-butiran kecil. Nah, seperti itulah juga semua zat yang ada di dunia ini yang juga tersusun atas partikel-partikel paling kecil yang menyusun zat yang lebih besar. Partikel terkecil yang menyusun setiap zat di dunia ini oleh para ilmuwan dikenal dengan sebutan atom.

Untuk mengawali pelajaran kimia di kelas X ini, Anda akan mempelajari tentang struktur atom, bagaimana bentuk atom itu, apa saja partikel penyusun atom, berapa banyak atom di dunia ini, bagaimana upaya para ahli untuk mengelompokkan atom – atom tersebut agar mudah dipelajari, dan lain-lain. Selamat memasuki dunia ilmu kimia yang penuh dengan keajaiban dan keindahan serta penuh pelajaran untuk kemaslahatan hidup di dunia.

Struktur Atom

Sistem Periodik Unsur

Kata Pencarian Artikel ini:

susunan berkala unsur-unsur kimiasusunan berkalaTabel unsur-unsur kimiaunsur periodik atomtabel periodik atomtabel struktur atom,struktur atom dan periodik unsurstruktur atom beserta tabelsusunan berkala Unsur unsur Kimiasistem berkala unsur

Written by nashiruddin.hasan in: Kimia,Materi Pelajaran SMA |
Nov
26
2011
0

Kimia MIPA vs Teknik Kimia, Pilih Yang Mana?

Saya seorang pelajar yang berminat

pada bidang kimia namun bingung
menentukan pilihan untuk kuliah kimia
MIPA atau teknik kimia.

Mohon rekan-rekan milis dapat membantu
saya menentukan pilihan.

Demikian potongan sebuah mail yang muncul di milis kimia_indonesia. Rasanya, banyak pelajar SMU yang lain yang juga bingung tentang hal ini. Apa kamu salah satunya?

Mari kita bandingkan kedua jurusan ini dari dua sisi, yaitu ilmu yang dipelajari dan pekerjaan setelah lulus kuliah.

APA YANG DIPELAJARI?

Mari kita mulai dulu dengan definisi ilmu kimia dan teknik kimia.

Ilmu kimia (chemistry) adalah ilmu yang
menyelidiki sifat dan struktur zat, serta
interaksi antara materi-materi penyusun zat.

Teknik kimia (chemical engineering) adalah
ilmu yang mempelajari rekayasa untuk
menghasilkan sesuatu (produk) yang bisa
digunakan untuk keperluan manusia,
berlandaskan pengetahuan ilmu kimia.

Dari definisi ini, ada tiga poin yang akan kita lihat.

”Poin 1: Sifat: Eksplorasi vs. Aplikasi”

Salah satu kegiatan dalam ilmu kimia adalah mencari zat atau reaksi baru. Sementara itu, teknik kimia tidak berupaya mengembangkan zat,
struktur, atau reaksi baru, tetapi ia mengaplikasikan dan mengembangkan yang sudah ada.

Perlu dicatat, walaupun teknik kimia tidak mencari sesuatu yang baru dari sisi kimia, namun ia mencari sesuatu yang baru dari sisi teknik produksi.

”Poin 2: Orientasi: Ilmu Pengetahuan vs. Industri”

Misalkan ada sebuah reaksi yang ditemukan sebagai berikut.

A + B –> C + D

Hasil reaksi terbentuk dengan perbandingan C sebanyak 70% dan D 30%. Dari hasil reaksi ini, produk yang berguna adalah D.

Terhadap reaksi ini, bidang ilmu kimia dan teknik kimia akan bersikap berbeda.

Ilmuwan kimia akan berupaya merekayasa reaksi A + B tersebut agar menghasilkan D dengan persentase yang lebih besar lagi. Upaya tersebut dilakukan dengan berusaha mengetahui lebih detail tentang apa yang mempengaruhi reaksi A + B, sampai ke tingkat molekular bahkan sampai ke tingkat atom.

Orang teknik kimia akan mencari cara untuk mengoptimalkan proses reaksi tersebut agar dihasilkan produk D yang ekonomis, yaitu yang biaya produksinya paling murah. Mereka akan mempelajari proses mana yang harus dipilih; alat untuk mengatur suhu dan tekanan reaksi; alat untuk mempersiapkan bahan bakunya; alat untuk memurnikan produk; dan lain-lain.

”Poin 3: Target Skala: Kecil vs. Raksasa”

Ilmu kimia mempelajari reaksi dengan melakukannya pada skala kecil di lingkungan laboratorium, misalnya dalam hitungan gram saja. Sementara teknik kimia mempelajari reaksi untuk dilakukan pada skala besar, misalnya dalam hitungan ton. Ini karena hasil penelitian teknik kimia akan diterapkan pada bidang industri.

PEKERJAAN SETELAH LULUS

Salah satu yang membuat kita bimbang waktu memilih jurusan adalah tentang pekerjaan setelah kita lulus kuliah nanti. Apa ada lowongan pekerjaan untuk lulusan ilmu kimia? Bidangnya seperti apa? Kalau untuk teknik kimia?

Lulusan ilmu kimia bisa bekerja misalnya di laboratorium, di bidang pendidikan sebagai guru atau dosen, atau di bagian Kendali Mutu (Quality Control) di pabrik.

Lulusan teknik kimia biasa bekerja di pabrik yang memproduksi barang-barang melalui proses kimia, misalnya di pabrik semen, pupuk, kilang minyak, dan sebagainya.

Tetapi, apakah lulusan ilmu kimia tidak bisa bekerja di bidang “milik” orang teknik kimia, dan sebaliknya?

Tidak ada masalah. Kedua ilmu ini punya pijakan yang sama yaitu kimia. Lulusan ilmu kimia bisa saja bekerja di Bagian Produksi, dan lulusan teknik kimia bisa saja bekerja di laboratorium.

Hanya saja, setelah bekerja mereka perlu belajar lebih keras dibanding kalau mereka memilih jalur pekerjaan yang “normal”. Namun kalau mau belajar, ini bukan hal yang mustahil.

Timbul pertanyaan, kalau kita mengambil pekerjaan yang “tidak sesuai” dengan kuliah kita, bukankah ilmu kita sia-sia?

Tidak juga. Toh waktu berkuliah kita akan belajar bagaimana memecahkan masalah secara sistematis, bagaimana berpikir dengan logis, bagaimana menghadapi bermacam-macam orang, dan bagaimana berdiplomasi. Ini semuanya adalah ilmu yang sangat penting dalam pekerjaan dan berlaku secara universal, tidak bergantung pada apa jenis pekerjaannya.

Di milis kimia_indonesia ada beberapa rekan kita yang bekerja pada bidang yang “tidak semestinya”. Simak cerita mereka.

“Saya seorang teknik kimia, sekarang bekerja di bagian Lab. Mikrobiologi. Sekarang saya harus banyak lagi mempelajari hal-hal baru dan harus menyesuaikan dulu dengan pekerjaan yang nantinya akan saya hadapi.”
Ikhsan Guswenrivo

“Saya sendiri dari kimia murni baik S1 maupun S2. Bahkan SMA-pun dari analis kimia. Tapi saya pernah bekerja di lab dan Bagian Produksi.

Memang pada kenyataannya untuk orang kimia murni pada saat bekerja di bagian produksi kita harus banyak buka-buka dulu buku wajibnya orang teknik kimia seperti “Perry’s Chemical Engineers Handbook” dan “Basic Thermodynamics”. Begitu juga orang teknik kimia kalau ditempatkan bekerja di lab harus buka-buka buku wajibnya orang kimia murni. Karena sebetulnya antara orang kimia dan teknik kimia sama-sama punya basis kimia yang kuat, masing-masing menjadi mudah untuk mempelajarinya.

Di bagian Lab maupun Produksi saya menempatkan baik orang kimia murni maupun orang teknik kimia sehingga saling melengkapi. Alhasil kita
punya tim yang solid antara produksi dan lab.”
Miftahudin Maksum
PT. Universal Laboratory
Tj.Uncang Batam (*)

“Saya S1 di kimia MIPA, penelitian saya tentang polimer. Sekarang saya di graduate school, biarpun tetap di bidang kimia, topik penelitiannya beda sekali. Saya harus belajar tentang neuron cell culture, tentang biomaterial, dan lain-lain (research saya tentang surface modification for retinal and cortical implant)”
Paulin Wahjudi
University of Southern California
Department of Chemistry (*)

PENUTUP

Setelah membaca tulisan ini, moga-moga sekarang kamu sudah lebih mantap untuk menentukan pilihan jurusanmu.

Saat sudah masuk kuliah nanti, jangan lupa untuk tetap membuka mata dan pikiran terhadap perkembangan teknologi. Pada saat ini, banyak topik penelitian yang berupa penelitian antarbidang ilmu. Kita tidak cukup hanya mengerti kimia MIPA ataupun teknik kimia saja, tetapi juga belajar lagi entah tentang elektro, biologi, dan sebagainya.

Selamat memilih jurusan dan belajar!

Catatan:

* Tulisan ini adalah rangkuman dari diskusi di milis kimia_indonesia bulan Februari-Maret 2005.
* Data afiliasi rekan-rekan di atas adalah berdasarkan data pada bulan Maret 2005.

Kata Pencarian Artikel ini:

teknik kimiakimia murniMIPA KimiaMATERI TEKNIK KIMIApengertian ilmu kimialulusan teknik kimiapekerjaan teknik kimiaperbedaan teknik kimia dengan kimia murnikimia mipateknik kimia adalah

Written by nashiruddin.hasan in: Kimia,Teknik Kimia |
Nov
25
2011
0

Tips dan Trik Sukses SNMPTN

Tips n Tricks SNMPTN

Buat kamu-kamu yang pengen ikutan snmptn, berikut ada sedikit tips praktis tentang persiapan menjelang snmptn,. Sebenarnya kamu-kamu nggak perlu takut ya untuk ikutan snmptn,, yang penting kita harus mempersiapkan diri untuk menghadapi snmptn,.

Langkah pertama :
Kalo mau ikutan snmptn,, ya… Diniatkan yang mantap, jangan setengah hati. Siapkan semua “senjata” serta “perlengkapan perang” untuk menghadapi yang satu ini. Mantapkan tujuan kita pengen masuk kemana, misalnya teknik kimia ugm, kedokteran ui, teknik elektro itb, psikologi ugm atau akuntansi ugm. Pertimbangkan pula keadaan ekonomi orang tua, cita-cita, harapan orang tua, serta peluang kerjanya setelah lulus nanti.
Beli atau pinjam soal-soal snmptn tahun-tahun terdahulu dari kakak-kakak kelas atau saudara, terus kerjakan soal-soal itu sebanyak mungkin. Karena soal snmptn, itu mengulang dari soal-soal tahun terdahulu, paling angkanya yang berubah. Oya, dari dulu snmptn itu namanya selalu berubah, tapi inti-nya tetap sama. Dulu namanya proyek perintis, skalu, sipenmaru, umptn,spmb kemudian snmptn.Juga jangan remehkan mata ujian hari pertama, terutama bahasa indonesia. Rugi lho kalo nilai bhs. Indonesianya kecil, karena itu merupakan tambang nilai di snmptn. Minimal bisa 25 soal yang benar.

Langkah kedua  :
Kalo bisa ikutan bimbingan belajar alias bimbel, tapi kalo nggak bisa, usahakan untuk mencari referensi lain di luar bimbel, jangan malu minta ajarin sama kakak kelas yang sudah kuliah, bahkan jangan malu juga nanya sama adik kelas yang lebih pintar. Yang penting kan ilmunya bisa diserap.
Langkah ketiga :
Untuk mengukur sejauh mana persiapan dan kemampuan kita, ikut try-out snmptn, pasti donk banyak tempat atau instansi di kotamu yang ngadain try-out snmptn. So jangan ragu untuk ikutan. Begitu keluar nilai try-out kamu segera cocokkan sendiri dengan passing grade jurusan dan ptn yang akan kamu tuju. Kalo nilainya cukup pilih saja, tapi kalo nggak cukup pilih alternatif lain, misalnya pilih jurusan atau ptn dengan nilai passing grade yang lebih rendah. O,ya untuk bisa mengetahui nilai passing grade jurusan di ptn, bisa dilihat di bimbel atau tanya saja sama teman yang ikutan bimbel. Jangan segan untuk konsultasi ke pengajar bimbel ataupun ke kakak kelas yang pernah lulus snmptn.
Langkah keempat :
Jangan lupa untuk selalu meminta petunjuk serta pertolongan dari allah, karena hanya allah yang akan menentukan segalanya. Perbanyak ibadah sunnah, misalnya shalat qiyamul lail, puasa senin kamis, shalat dhuha, dll.
Langkah kelima :
Hati-hati dengan masalah teknis pengisian formulir pendaftaran. Pengisian formulir harus tepat dan hati-hati. Tidak boleh kotor, basah, terlipat atau lecek. Karena formulir snmptn akan dibaca oleh komputer sehingga hal-hal tsb sangat berpengaruh. Sayang kan…, kalo sampai terjadi “kecelakaan” pada formulir snmptn, padahal sebenarnya nilai snmptn kamu cukup tinggi.
Langkah keenam :
Jangan lupa untuk survei tempat snmptn minimal 2 hari sebelum snmptn. Ambil resiko terburuk yaitu mendapatkan meja atau tempat duduk yang kurang memadai. Jadi, siapin semaksimal mungkin. Dan pada malam hari sebelum snmptn jangan terlalu banyak belajar ataupun kegiatan berat lainnya, tapi istirahat untuk menenangkan pikiran, agar besoknya bisa segar. Pakailah pakaian yang nyaman, agar tidak menggangu konsentrasi.
Siapkan “senjata-senjata” berikut : minimal 4 mata pensil 2b yang siap pakai, bisa dengan menyerut 2 ujung pensil 2b, penghapus yang bersih, penggaris, klip/penjepit kertas minimal 5 buah, pulpen, tissue/saputangan, alas, jam yang tepat, air minum. O, ya kartu ujian-nya nggak boleh lupa lho…
Kalo bisa datang jangan terlalu kepagian atau terlambat. Kalo kepagian kita bisa be-te nungguin lama, kalo telat kita juga nggak tenang ngerjain soal. Waktu optimalnya kira-kira 15 menit sebelum masuk. Hindari membawa buku yang banyak, karena memberatkan, cukup “senjata” saja yang dibawa. Yakinlah bahwa kamu telah mengisi form nama, nomor ujian dan kode soal dengan benar. Jangan lupa periksa berulang-ulang.
Untuk mengerjakan soal-soal hitungan, pertama bukalah klip pada naskah soal, kemudian pisahkan satu-satu per mata pelajaran, jepit dengan klip/penjepit kertas yang telah kamu siapkan, nah, misalnya untuk mengerjakan soal fisika, dapat menghitung/mencoret-coret pada belakang naskah soal pelajaran lainnya. Lebih mudah khan??
Kerjakanlah soal yang kamu anggap paling mudah terlebih dahulu baru meningkat ke yang sedang kemudian yang sulit, sisakan waktu minimal 15 menit untuk memindahkan ke lembar jawaban. Manfaatkan waktu-waktu “injury time” untuk mengecek terakhir kebenaran form nama, nomor dll serta jawaban pada lembar jawaban komputer. Jangan terburu-buru tapi juga jangan membuang waktu. Hindari pekerjaan yang membuang waktu misalnya menyerut pensil, dsb. Rugi lho.
Setelah selesai ujian, langsung pulang, jangan keluyuran, siapkan untuk hari kedua. Kalo perlu sembunyikan lembaran soal yang kita bawa pulang. Hindari ajakan teman untuk membahas soal atau mengungkit-ungkit tentang snmptn, karena akan sangat mengganggu “jiwa” kita. Kecuali kalo sudah “kebal” sih nggak apa-apa. Kalau ketemu teman cukup dengan obrolan yang ringan saja.
Hal-hal yang tak kalah penting dalam pemilihan jurusan
Sebelum memilih jurusan, ada baiknya cari informasi terlebih dahulu agar tidak terjadi penyesalan di kemudian hari. Tanya-tanya sama kakak kelas atau teman, bagaimana kuliahnya, dosennya, fasilitasnya, pergaulannya, ospeknya, biaya kuliahnya, praktikumnya, dll.

Penulis:

Muhammad Nashiruddin Hasan

http://matematikaitumudah.wordpress.com/

http://nashiruddin-hasan.blog.ugm.ac.id

Written by nashiruddin.hasan in: Bimbingan Belajar,Matematika |
Nov
25
2011
0

download soal dan kunci snmptn 2011 (new)

download soal dan kunci snmptn 2011

Buat adek-adek yang belum punya soal-soal snmptn 2011, ini saya post kan soal dan kunci jawabannya
Pembahasannya mungkin di lain waktu saya posting

Soal SNMPTN 2011 Kemampuan Dasar Kode 194
download soal matematika dasar snmptn 2011
download soal matematika dasar snmptn 2011

download soal bahasa indonesia snmptn 2011
download soal bahasa indonesia snmptn 2011

download soal bahasa inggris snmptn 2011
download soal bahasa inggris snmptn 2011

Soal SNMPTN 2011 Kemampuan IPA Kode 599
download soal matematika ipa snmptn 2011
download soal matematika ipa snmptn 2011

download soal fisika snmptn 2011
download soal fisika snmptn 2011

download soal kimia snmptn 2011
download soal kimia snmptn 2011

download soal biologi snmptn 2011
download soal biologi snmptn 2011

semoga bermanfaat…

dipublish ulang dari blog saya yang lainnya yaitu http://matematikaitumudah.wordpress.com/

kata kunci: download soal dan pembahasan snmptn , download soal dan pembahasan um ugm , download soal dan pembahasan ujian nasional

Written by nashiruddin.hasan in: Bimbingan Belajar,Matematika |

Powered by WordPress. Theme: TheBuckmaker