Nov
26
2011
0

Alat Ukur Panjang, Massa dan Waktu

Alat ukur besaran-besaran fisika sangat banyak

tetapi di kelas X SMA ini dikenalkan tiga alat ukur besaran
pokok yaitu panjang, massa dan waktu. Beberapa alat
ukur besaran tersebut dapat dicermati seperti berikut.
a. Alat ukur panjang
Panjang, lebar atau tebal benda dapat diukur dengan
mistar. Tetapi jika ukurannya kecil dan butuh ketelitian
maka dapat digunakan alat lain yaitu jangka sorong dan
mikrometer skrup.
(1) Jangka sorong
Sudah tahukah kalian dengan jangka sorong?
Jangka sorong banyak digunakan dalam dunia mesin. Jika
kalian menanyakan pada teknisi sepeda motor atau mobil
maka dia akan langsung menunjukkannya. Perhatikan
Gambar 1.9(a). Alat pada gambar itulah yang dinamakan
jangka sorong. Jika kalian cermati maka jangka sorong
tersebut memiliki dua bagian. Pertama, rahang tetap
yang memuat skala utama. Kedua, rahang sorong (geser)
yang memuat skala nonius.

Alat ukur besaran-besaran fisika sangat banyaktetapi di kelas X SMA ini dikenalkan tiga alat ukur besaranpokok yaitu panjang, massa dan waktu. Beberapa alatukur besaran tersebut dapat dicermati seperti berikut.a. Alat ukur panjangPanjang, lebar atau tebal benda dapat diukur denganmistar. Tetapi jika ukurannya kecil dan butuh ketelitianmaka dapat digunakan alat lain yaitu jangka sorong danmikrometer skrup.(1) Jangka sorongSudah tahukah kalian dengan jangka sorong?Jangka sorong banyak digunakan dalam dunia mesin. Jikakalian menanyakan pada teknisi sepeda motor atau mobilmaka dia akan langsung menunjukkannya. PerhatikanGambar 1.9(a). Alat pada gambar itulah yang dinamakanjangka sorong. Jika kalian cermati maka jangka sorongtersebut memiliki dua bagian. Pertama, rahang tetapyang memuat skala utama. Kedua, rahang sorong (geser)yang memuat skala nonius.

[gambar a dan b]

Skala nonius merupakan skala yang menentukan

ketelitian pengukuran. Skala ini dirancang dengan panjang

19 mm tetapi tetap 20 skala. Sehingga setiap skala

nonius akan mengalami pengecilan sebesar (20-19) : 20

= 0,05 mm. Perhatikan perbandingan skala tersebut pada

Gambar 1.9(b).

Hasil pengukuran dengan jangka sorong akan

memuat angka pasti dari skala utama dan angka taksiran

dari skala nonius yang segaris dengan skala utama. Penjumlahan

dari keduannya merupakan angka penting.

Hasil pengukuran itu dapat dituliskan dengan persamaan

sebagai berikut.

x = (x0 + Δx . 0,05) mm …………………. (1.4)

dengan : x = hasil pengukuran

CONTOH 1.5

Diana mengukur diameter dalam tabung dapat menunjukkan

keadaan pengukuran seperti pada Gambar

1.10. Berapakah diameter dalam tabung tersebut?

Penyelesaian

Dari Gambar 1.10 diperoleh:

x0 = 23 mm

Δx = 12

Berarti diameter dalam tabung sebesar:

x = x0 + Δx . 0,05

= 23 + 12.0,05 = 23,60 mm

[ gambar 1.10]

(2) Mikrometer sekrup

Coba kalian perhatikan Gambar 1.11! Alat yang

terlihat pada gambar itulah yang dinamakan mikrometer

sekrup. Mirip dengan jangka sorong, mikrometer juga

memiliki dua bagian. Pertama, rahang tetap memuat

skala utama. Kedua, rahang putar, memuat skala

nonius.

Mikrometer ini dapat digunakan untuk mengukur

ketebalan benda-benda yang tipis seperti kertas dan

rambut. Hal ini sesuai dengan sifat mikrometer yang

memiliki ketelitian lebih besar dari jangka sorong. Mikrometer

memiliki ketelitian hingga 0,01 mm. Ketelitian

ini dirancang dari rahang putar yang memuat 50 skala

x0 Δx

rahang tetap rahang tetap

[ gambar 1.11]

Hasil pengukurannya juga memiliki angka pasti

dan angka taksiran seperti jangka sorong. Rumusnya

sebagai berikut.

x = (x0 + Δx . 0,01) mm ……………….. (1.5)

dengan : x = hasil pengukuran

x0

= skala utama sebelum batas rahang putar

Δx = skala nonius yang segaris dengan garis

tengah skala utama

CONTOH 1.6

Penunjukkan skala pada mikrometer sekrup yang

digunakan untuk mengukur tebal kertas dapat dilihat

seperti pada Gambar 1.12. Berapakah hasil pengukuran

tersebut?

Penyelesaian

Dari Gambar 1.11 dapat diperoleh:

x0 = 1 mm

Δx = 6

Berarti hasil pengukurannya sebesar:

x = x0 + Δx . 0,01

= 1 + 6 . 0,01 = 1,06 mm

[ gambar 1.12]

b. Alat ukur massa

Kalian tentu sudah tidak asing lagi dengan pengukur

massa. Setiap saat kalian perlu menimbang massa

kalian untuk data tertentu. Alat pengukur itu dikenal

dengan nama neraca. Namun beberapa neraca yang

digunakan sering dinamakan timbangan. Pada Gambar

1.13 diperlihatkan berbagai jenis neraca ; neraca badan,

neraca pegas, neraca O’hauss dan neraca analitis. Neraca

badan memiliki skala terkecil 1 kg, neraca pegas 1 gr,

neraca O’hauss 0,1 gr sedangkan neraca analitis hingga

1 mg.

Neraca yang sering digunakan di laboratorium

adalah neraca O’hauss. Hasil pengukuran dengan neraca

sesuai dengan jumlah pembanding yang digunakan.

Untuk memahaminya cermati contoh 1.7 berikut.

[ gambar a dan b]

CONTOH 1.7

Andi dan Johan sedang mengukur massa balok.

Pembanding-pembanding yang digunakan dapat

terlihat seperti pada Gambar 1.14(a). Berapakah

massa balok tersebut?

[ gambar 1.14]

Penyelesaian

Hasil pengukuran dengan neraca O’hauss adalah jumlah

dari pembanding-pembanding yang digunakan,

sehingga dari Gambar 1.14(a) dapat diperoleh:

M = 1kg + 400 kg + 40 gr + 1gr

= 1441 gr = 1,441 kg

c. Alat ukur waktu

Dalam setiap aktivitas, kita selalu menggunakan

batasan waktu. Contohnya proses belajar mengajar

fisika, waktunya 90 menit. Istirahat sekolah 30 menit.

Batasan-batasan waktu ini biasanya digunakan jam biasa.

Bagaimana jika batasan waktunya singkat (dalam detik)

seperti mengukur periode ayunan? Untuk kejadian ini

dapat digunakan pengukur waktu yang dapat dikendalikan

yaitu stop watch. Perhatikan Gambar 1.15!

Ada beberapa jenis stopwatch, ada yang manual dan ada

yang digital.

Hasil pembacaan stop watch digital dapat langsung

terbaca nilainya. Untuk stop watch yang menggunakan

jarum, maka pembacanya sesuai dengan penunjukkan

jarum. untuk contoh 1.8 diperlihatkan stop watch yang

memiliki dua jarum penunjuk. Jarum pendek untuk menit

dan jarum panjang untuk detik.

CONTOH 1.8

Tampilan stopwatch yang digunakan untuk mengukur

waktu gerak benda dapat dilihat seperti Gambar 1.16.

Berapakah waktu yang dibutuhkan?

Penyelesaian

Jarum pendek: 2 menit

Jarum panjang: 34,5 detik (jarum pendek pada tanda

hitam/merah berarti di atas 30 detik)

Jadi waktu yang dibutuhkan memenuhi:

t = 2 menit + 34,5 detik

= 120 detik + 34,5 detik = 154,5 detik

[ gambar 1.17]

4. Analisa Angka Penting

Seperti penjelasan di depan, angka penting merupakan

semua angka yang diperoleh dalam pengukuran.

Namun setelah dituliskan kadang-kadang jumlah angka

pentingnya jadi rancu. Contohnya panjang suatu benda

terukur 3,2 cm. Nilai panjang ini dapat ditulis 0,032 m atau

320 mm. Dari penulisan ini timbul pertanyaan; berapakah

jumlah angka penting panjang benda tersebut?

Untuk mengatasi kerancuan tersebut maka kalian

perlu memperhatikan hal-hal penting berikut.

1. Penulisan angka penting bertujuan untuk mengetahui

ketelitian suatu pengukuran.

Contohnya pengukuran panjang benda di atas. l =

3,2 cm. Hasil ini menunjukkan bahwa pengukuran

ini teliti hingga 1 desimal untuk centimeter (0,1 cm)

dan angka pentingnya berjumlah 2. Misalnya lagi

suatu pengukuran yang memperoleh t = 2,50 s. Hasil

ini menunjukkan bahwa ketelitian alatnya sampai dua

desimal (0,01 s) sehingga perlu menuliskan nilai 0 di

belakang angka 5. Berarti memiliki 3 angka penting.

2. Penulisan hasil pengukuran sebaiknya menggunakan

notasi ilmiah.

Bentuk notasi ilmiah seperti berikut.

a × 10n ……………………………………… (1.6)

dengan : 1 < a < 10

n = bilangan bulat

Penulisan notasi ilmiah ini akan lebih bermanfaat lagi

jika dilakukan perubahan satuan. Misalnya pengukuran

panjang benda di atas l = 3,2 cm = 0,032

m. Perubahan satuan ini sebaiknya dalam bentuk l

= 3,2.10-2 m. Penulisan ini tetap memiliki dua angka

penting. Begitu pula dalam mm, l = 3,2.101 mm (2

angka penting). Dengan metode ini perubahan satuan

tidak mengubah jumlah angka penting hasil pengukuran.

4. Analisa Angka Penting

Seperti penjelasan di depan, angka penting merupakan

semua angka yang diperoleh dalam pengukuran.

Namun setelah dituliskan kadang-kadang jumlah angka

pentingnya jadi rancu. Contohnya panjang suatu benda

terukur 3,2 cm. Nilai panjang ini dapat ditulis 0,032 m atau

320 mm. Dari penulisan ini timbul pertanyaan; berapakah

jumlah angka penting panjang benda tersebut?

Untuk mengatasi kerancuan tersebut maka kalian

perlu memperhatikan hal-hal penting berikut.

1. Penulisan angka penting bertujuan untuk mengetahui

ketelitian suatu pengukuran.

Contohnya pengukuran panjang benda di atas. l =

3,2 cm. Hasil ini menunjukkan bahwa pengukuran

ini teliti hingga 1 desimal untuk centimeter (0,1 cm)

dan angka pentingnya berjumlah 2. Misalnya lagi

suatu pengukuran yang memperoleh t = 2,50 s. Hasil

ini menunjukkan bahwa ketelitian alatnya sampai dua

desimal (0,01 s) sehingga perlu menuliskan nilai 0 di

belakang angka 5. Berarti memiliki 3 angka penting.

2. Penulisan hasil pengukuran sebaiknya menggunakan

notasi ilmiah.

Bentuk notasi ilmiah seperti berikut.

a × 10n ……………………………………… (1.6)

dengan : 1 < a < 10

n = bilangan bulat

Penulisan notasi ilmiah ini akan lebih bermanfaat lagi

jika dilakukan perubahan satuan. Misalnya pengukuran

panjang benda di atas l = 3,2 cm = 0,032

m. Perubahan satuan ini sebaiknya dalam bentuk l

= 3,2.10-2 m. Penulisan ini tetap memiliki dua angka

penting. Begitu pula dalam mm, l = 3,2.101 mm (2

angka penting). Dengan metode ini perubahan satuan

tidak mengubah jumlah angka penting hasil pengukuran.

3. Semua angka bukan nol merupakan angka penting.

Contohnya suatu pengukuran tebal benda memperoleh

nilai d = 35,28 cm berarti nilai tersebut

memiliki 4 angka penting.

4. Untuk angka nol memiliki kriteria tersendiri yaitu:

a). Angka nol diantara bukan nol termasuk angka

penting

b). Angka nol di sebelah kanan angka bukan nol

termasuk angka penting kecuali ada keterangan

tertentu.

c). Angka nol di sebelah kiri angka bukan nol tidak

termasuk angka penting.

Contohnya:

3,023 gr = 4 angka penting

4,500 s = 3 angka penting

0,025 cm = 2 angka penting

Mengapa kalian perlu mengetahui jumlah angka

penting? Jumlah angka penting ini ternyata berkaitan erat

dengan operasi angka penting. Operasi angka penting

yang perlu dipelajari diantaranya penjumlahan, pengurangan,

perkalian dan pembagian. Dalam setiap operasi

ini perlu mengetahui beberapa aturan berikut.

(1) Operasi dua angka pasti hasilnya angka pasti.

(2) Operasi yang melibatkan angka taksiran hasilnya

merupakan angka taksiran.

(3) Hasil operasi angka penting hanya diperbolehkan

mengandung satu angka taksiran. Jika diperoleh

lebih dari dua angka taksiran maka harus dilakukan

pembulatan. Angka 4 ke bawah dihilangkan

dan angka 5 ke atas dibulatkan ke atas.

a. Penjumlahan dan pengurangan

Operasi penjumlahan dan pengurangan angka

penting memiliki cara yang sama dengan operasi aljabar

biasa. Hasilnya saja yang harus memenuhi aturan angka

penting diantaranya hanya memiliki satu angka taksiran.

Perhatikan contoh berikut.

CONTOH 1.9

a. X = 25, 102 + 1,5

b. Y = 6,278 − 1,21

Tentukan nilai X dan Y!

Penyelesaian

a. Penjumlahan :

25, 1 0 2

1, 5 +

26, 6 0 2

16 Fisika SMA Kelas X

Aktiflah

Sifat pembagian angka penting

sama dengan perkaliannya.

Perhatikan pembagian bilangan

berikut.

x = 43,56 : 5,2

a. Berapakah jumlah angka

penting bilangan hasil pembagian

tersebut? Jelaskan

bagaimana kalian dapat

menentukannya?

b. Buktikan jawaban kalian

dengan membagi bilangan

tersebut!

_

Dengan pembulatan diperoleh X = 26,6 (hanya 1

angka taksiran).

b. Pengurangan:

6, 2 7 8

1, 2 1

5, 0 6 8

Dengan pembulatan diperoleh Y = 5,07 (hanya 1

angka taksiran).

b. Perkalian dan pembagian

Bagaimana dengan operasi perkalian dan pembagian

angka penting? Sudahkah kalian memahami?

Ternyata aturannya juga sesuai dengan operasi penjumlahan

dan pengurangan. Namun ada sifat yang menarik

pada operasi ini. Coba kalian cermati jumlah angka penting

pada perkalian berikut.

3 5, 1 (3 angka penting)

2, 6 (2 angka penting)

2 1, 0 6

7 0, 2

9 1, 2 6

Pembulatan : 9 1 (2 angka penting)

Apakah yang dapat kalian cermati dari hasil operasi

perkalian itu? Ternyata hasil akhir operasi perkalian

itu memiliki jumlah angka penting yang sama dengan

jumlah angka penting paling sedikit. Sifat perkalian ini

akan berlaku pada operasi pembagian. Cobalah buktikan

dengan membuat contoh sendiri.

CONTOH 1.10

Sebuah hambatan terukur 120, 5 Ω. Jika ujung-ujung

hambatan itu diberi beda potensial 1,5 volt maka

berapakah kuat arus yang lewat?

Penyelesaian

R = 120,5 Ω (4 angka penting)

V = 1,5 volt (2 angka penting)

Sesuai hukum Ohm (masih ingat di SMP?) dapat

diperoleh:

I =

= = 0,01245 A = 12,45 mA

Pembulatan I = 12 mA (2 angka penting)

Kata Pencarian Artikel ini:

Written by nashiruddin.hasan in: Fisika,Materi Pelajaran SMA |
Nov
26
2011
0

Pengambilan Data dan Angka Penting

Di depan kalian telah dijelaskan tentang apa yang dimaksud dengan pengukuran. Dalam belajar fisika tidak bisa lepas dari pengukuran. Ada tiga hal penting yang berkaitan dengan pengukuran, yaitu: pengambilan data, pengolahan data dan penggunaan alat ukur. Ketiga hal ini dapat kalian cermati pada penjelasan berikut.

1. Pengambilan Data dan Angka Penting
Pernahkah kalian melakukan kegiatan pengambilan data? Proses pengukuran hingga memperoleh data hasil pengukuran itulah yang dinamakan pengambilan data. Apakah hasil pengukuran dapat memperoleh nilai yang tepat? Proses pengukuran banyak terjadi kesalahan. Kesalahan bisa terjadi dari orang yang mengukur, alat ukur atau lingkungannya. Untuk memuat semua keadaan itu maka pada hasil pengukuran dikenal ada angka pasti dan angka taksiran. Gabungan kedua angka itu disebut angka penting.
Angka penting adalah angka yang didapat dari hasil pengukuran yang terdiri dari angka pasti dan angka taksiran. Nilai setiap hasil pengukuran merupakan angka penting. Seperti keterangan di atas angka penting terdiri dari dua bagian. Pertama angka pasti yaitu angka yang ditunjukkan pada skala alat ukur dengan nilai yang ada. Kedua angka taksiran yaitu angka hasil pengukuran yang diperoleh dengan memperkirakan nilainya. Nilai ini muncul karena yang terukur terletak diantara skala terkecil alat ukur. Dalam setiap pengukuran hanya diperbolehkan memberikan satu angka taksiran. Untuk memahami angka penting ini dapat kalian cermati contoh berikut.

Penting
Angka taksiran pada pengukuran massa benda Gambar 1.2 juga boleh sebesar 0,9 atau 0,7 yang penting adalah 1 angka taksiran. Tidak boleh 0,85 atau 0,95 karena ada 2 angka penting.

CONTOH 1.1
Sekelompok siswa yang melakukan pengukuran massa benda menggunakan alat neraca pegas. Dalam pengukuran itu terlihat penunjukkan skala seperti pada Gambar 1.2. Aghnia menuliskan hasil 8,85 gr sedangkan John menuliskan hasil 8,9 gr. Manakah hasil yang benar?
Penyelesaian:
Coba kalian perhatikan Gambar 1.2. Dari gambar itu dapat diperoleh:
Angka pasti = 8 gr
Angka taksiran = 0,9 gr (hanya boleh satu angka taksiran, tidak boleh 0,85 karena 2 angka taksiran)
Hasil pengukuran adalah
m = angka pasti + angka taksiran
= 8 + 0,8 = 8,8 gr
Jadi yang lebih tetap adalah hasilnya John.

Untuk lebih memahami contoh ini dapat kalian coba soal berikut.

Sebuah pensil diukur panjangnya dengan mistar centimeter. Keadaannya dapat dilihat seperti pada Gambar 1.3. Tentukan hasil pengukuran tersebut.

Untuk mendapatkan hasil pengukuran yang tepat dapat dilakukan langkah-langkah penghindaran kesalahan. Langkah-langkah itu diantaranya seperti berikut.
a. Memilih alat yang lebih peka
Langkah pertama untuk melakukan pengukuran adalah memilih alat. Alat ukur suatu besaran bisa bermacam-macam. Contohnya alat ukur massa.  Tentu kalian telah mengenalnya ada timbangan (untuk beras atau sejenisnya), neraca pegas, neraca O’hauss (di laboratorium) dan ada lagi neraca analitis (bisa digunakan menimbang emas). Semua alat ini memiliki kepekaan atau skala terkecil yang berbeda-beda. Untuk mendapatkan hasil yang lebih tepat maka: pertama, pilihlah alat yang lebih peka (lebih teliti). Misalnya neraca analitis memiliki ketelitian yang tinggi hingga 1 mg. Kedua, pilihlah alat yang sesuai penggunaannya (misalnya neraca analisis untuk mengukur benda – benda kecil seperti massa emas).
b. Lakukan kalibrasi sebelum digunakan
Kalibrasi biasa digunakan pada badan meteorologi dan geofisika. Misalnya untuk timbangan yang sudah cukup lama digunakan, perlu dilakukan kalibrasi. Kalibrasi adalah peneraan kembali nilai-nilai pada alat ukur. Proses kalibrasi dapat juga dilakukan dalam lingkup yang kecil yaitu pada pengambilan data eksperimen di laboratorium. Sering sekali alat ukur yang digunakan memiliki keadaan awal yang tidak nol. Misalnya neraca pegas saat belum diberi beban, jarumnya sudah menunjukkan nilai tertentu (bukan nol). Keadaan alat seperti inilah yang perlu kalibrasi. Biasanya pada alat tersebut sudah ada bagian yang dapat membuat nol (normal).
c. Lakukan pengamatan dengan posisi yang tepat
Lingkungan tempat pengukuran dapat mempengaruhi hasil pembacaan. Misalnya banyaknya cahaya yang masuk. Gunakan cahaya yang cukup untuk pengukuran. Setelah lingkungannya mendukung maka untuk membaca skala pengukuran perlu posisi yang tepat. Posisi pembacaan yang tepat adalah pada arah yang lurus.
d. Tentukan angka taksiran yang tepat
Semua hasil pengukuran merupakan angka penting. Seperti penjelasan di depan, bahwa angka penting memuat angka pasti dan satu angka taksiran. Angka taksiran inilah yang harus ditentukan dengan tepat. Lakukan pemilihan angka taksiran dengan pendekatan yang tepat. Angka taksiran ditentukan dari setengah skala terkecil. Dengan demikian angka penting juga dipengaruhi spesifikasi alat yang digunakan.

Aktiflah
Sekelompok siswa sedang
mengukur panjang penghapus.
Beberapa posisi pengukurannya
terlihat seperti
gambar di bawah.

Coba kalian jelaskan pengukur
(a) dan (b)!


Aktiflah
Gambar 1.3
Sekelompok siswa sedang
mengukur panjang penghapus.
Beberapa posisi pengukurannya
terlihat seperti
gambar di bawah.
(a)
(b)
Coba kalian jelaskan pengukur
(a) dan (b)!

Kata Pencarian Artikel ini:

lanjutan:

Pengolahan Data

Ditulis oleh Sri Handayani pada 14-05-2011

2. Pengolahan Data
Pengukuran dalam fisika bertujuan untuk mendapatkan data. Apakah manfaat data yang diperoleh? Tentu kalian sudah mengetahui bahwa dari data tersebut dapat dipelajari sifat-sifat alam dari besaran yang sedang diukur. Dari data itu pula dapat dilakukan prediksi kejadian berikutnya.

Dari penjelasan di atas dapat dilihat betapa pentingnya arti data hasil pengukuran. Namun perlu kalian ketahui bahwa untuk memenuhi pemanfaatannya data yang ada perlu dianalisa atau diolah. Metode pengolahan data sangat tergantung pada tujuan pengukuran (eksperimen) yang dilakukan. Sebagai contoh untuk kelas X SMA ini dapat dikenalkan tiga metode analisa data seperti berikut.
a. Metode generalisasi
Pengukuran atau yang lebih luas bereksperimen fisika di tingkat SMA ada yang bertujuan untuk memahami konsep-konsep yang ada. Misalnya mempelajari sifat-sifat massa jenis air. Untuk mengetahui sifat itu maka dapat dilakukan pengukuran kemudian datanya diolah. Pengolahan data untuk tujuan ini tidak perlu rumit, cukup dari data yang ada dibuat simpulan yang berlaku umum.Salah satu metode untuk membuat simpulan masalah seperti ini adalah metode generalisasi.
Perhatikan contoh berikut.
CONTOH 1.2
Made dan Ahmad sedang melakukan pengukuran massa jenis zat cair dengan gelas ukur dan neraca seperti pada Gambar 1.4. Tujuannya untuk mengetahui sifat massa jenis zat cair jika volumenya diperbesar. Jika volumenya ditambah dan massanya ditimbang maka dapat diperoleh data seperti pada tabel 1.1.  Simpulan apakah yang dapat kalian peroleh?

Penyelesaian

Karena bertujuan untuk mengetahui sifat massa jenis, maka dapat dibuat simpulan dengan menggunakan metode generalisasi. Dari data pada tabel 1.1 dapat dilihat bahwa pada setiap keadaan diperoleh hasil perhitungan ρ =  m/v yang selalu tetap yaitu 1,2 gr/cm3. Jadi ρ tetap terhadap tambahan
volume.

Untuk lebih memahami contoh ini dapat kalian coba soal berikut.

Dalam suatu pengukuran dan pengamatan sifat-sifat bayangan oleh lensa cembung diperoleh data seperti pada tabel 1.2. Coba kalian tentukan sifat-sifat yang ada dari data tersebut!

b. Metode kesebandingan

Tujuan pengukuran (eksperimen) yang utama adalah mencari hubungan antara besaran yang satu dengan besaran yang lain. Dari hubungan antar besaran ini dapat diketahui pengaruh antar besaran dan kemudian dapat digunakan sebagai dasar dalam memprediksi kejadian berikutnya. Misalnya semakin besar massa balok besi maka semakin besar pula volume balok besi tersebut. Untuk memenuhi tujuan pengukuran di atas maka data yang diperoleh dapat dianalisa dengan cara membandingkan atau disebut metode kesebandingan. Dalam metode kesebandingan ini sebaiknya data diolah dengan menggunakan grafik. Untuk tingkat SMA ini dapat dipelajari dua bentuk kesebandingan yaitu berbanding lurus dan berbanding terbalik.
Berbanding lurus
Dua besaran yang berbanding lurus (sebanding) akan mengalami kenaikan atau penurunan dengan perbandingan yang sama. Misalnya X berbanding lurus dengan Y, maka hubungan ini dapat dituliskan seperti berikut.

Hubungan berbanding lurus ini dapat digambarkan pada grafik dengan kurva yang linier seperti pada Gambar 1.5.

Grafik X berbanding lurus dengan Y.

Berbanding terbalik

Dua besaran akan memiliki hubungan berbanding terbalik jika besaran yang satu membesar maka besaran lain akan mengecil tetapi perkaliannya tetap. Misalnya X berbanding terbalik dengan Y, maka hubungan ini dapat ditulis sebagai berbanding terbalik. Dua besaran akan memiliki hubungan berbanding terbalik jika besaran yang satu membesar maka besaran lain akan mengecil tetapi perkaliannya tetap. Misalnya X berbandingterbalik dengan Y, maka hubungan ini dapat ditulis sebagai
[Equation_02.jpg]
Hubungan berbanding terbalik ini dapat digambarkan
pada grafik dengan kurva yang berbentuk hiperbola pada satu
kuadran (untuk X dan Y positif) seperti pada Gambar 1.6(a)
atau linier seperti yang terlihat pada Gambar 1.6.(b)
Hubungan berbanding terbalik ini dapat digambarkanpada grafik dengan kurva yang berbentuk hiperbola pada satukuadran (untuk X dan Y positif) seperti pada Gambar 1.6(a)atau linier seperti yang terlihat pada Gambar 1.6.(b)
[Fig_08.jpg]
CONTOH 1.3
Sekelompok siswa sedang melakukan pengukuran untukmengetahui hubungan beda potensial ujung-ujung hambatandengan kuat arus yang mengalir. Mereka membuat rangkaianseperti pada Gambar 1.7 dan mengukur beda potensial V denganvolt meter dan kuat arus I dengan amperemeter. Data yang
[TAbel_o3]
[Fig_09.jpg]
Penyelesaian
Untuk mengetahui hubungan V dengan I dapat digunakan
grafik V-I. Dari tabel 1.3 dapat digambarkan
grafik seperti Gambar 1.8. Kurva yang terjadi cenderung
linier naik berarti V berbanding lurus dengan I.
Secara matematis dituliskan:
V ~ I
[Fig_10.jpg]
Untuk lebih memahami contoh ini dapat kalian
coba soal berikut.
Dalam suatu ruang tertutup terdapat gas yang diatur
suhunya tetap. Volume tersebut diubah-ubah seiring
dengan perubahan tekanan sehingga suhu tetap. Pada
pengukuran volume dan tekanan gas diperoleh data
seperti pada tabel 1.4. Tentukan hubungan tekanan
dan volume gas tersebut!
[Tabel_04.jpg]

Kata Pencarian Artikel ini:

manfaat mempelajari massa airpengolahan dataartikel pengukuran liniermetode pengolahan datatabel densitastabel massa jenisfungsi balok besi dalam pengukuranPerhitungan kimia menggunakan massa jenisdensitas zat cairdensitas air

Written by nashiruddin.hasan in: Fisika,Materi Pelajaran SMA |

Powered by WordPress. Theme: TheBuckmaker